Istilah Scientifying Social Phenomenon dicetuskan oleh seorang teman, sebagai bentuk impresi kepada saya.

Dalam keseharian, saya dikenal sebagai seorang pecinta sains atau science enthusiast, atau mungkin science freak. Saya suka mencari penjelasan ilmiah dan empiris tentang suatu hal. Kurang kerjaan, mungkin sebagian orang menganggapnya, tapi saya senang melakukannya.

Di tengah teman-teman yang asik membicarakan make-up, kuteks, dan relationship, secara random saya bisa melontarkan perpektif sains atau sekedar melontarkan kontruksi logis dari sebuah situasi atau topik.

Ketika teman curhat tentang pasangannya, saya random bercerita tentang sains di balik cinta. Ketika teman sedang mengagumi sosok model di sampul majalah, saya akan berbicara mengenai definisi “cantik” secara evolusioner, kenapa pria suka wanita bahenol, paras cantik, dan payudara mantep.

Ya, beberapa mungkin melihat pemikiran saya terlalu berat atau sotoy. Tapi tidak sedikit juga yang tertarik dengan “dongeng” sains saya dan merasakan penjelasan tersebut bermanfaat. Alhasil, saya jadi sering ditanyai banyak hal. Apa maksud dari sebuah iklan? Bolehkah ibu hamil mengkonsumsi seafood? Apa dampak dari sebuah kebijakan publik? Sampai kenapa cewek matre dan cowok mesum.

Penjelasan ilmiah di balik hal di sekeliling kita. Tema inilah yang saya angkat ke blog saya (sebelumnya Profannyti Hawk yang masih numpang di blogspot).

Saya suka iseng mengobok-obok jurnal ilmiah, seperti American Psychological Association (APA), hanya untuk memastikan saya ga asal bacot. Sudah banyak informasi keliru beredar di tengah masyarakat, saya tidak mau menambah ramai kontribusi dalam “menyesatkan” orang.

Tujuan utama saya menulis topik ini adalah untuk menjembatani gap (jurang) antara dunia sains dan masyarakat awam. Dunia sains kaya akan berbagai temuan mutakhir dan ilustrasi indah tentang alam semesta. Orang yang science-minded akan melihat masyarakat awam kaya akan “kepercayaan” tak berdasar, penuh bias, romantisasi, dan misleading. Di sisi lain, masyarakat awam kerap melihat sains sebagai sesuatu yang berat, membosankan, “ah ga ada waktu lah buat itu. hidup udah ribet, apa lagi ini sains sains? Berat!

Heii… Padahal hal-hal di sekeliling kita berawal dari eksplorasi ilmiah. Mulai dari kursi yang kamu duduki, gadget yang kamu gunakan untuk buka situs ini, mobil yang kamu kendarai, obat yang kamu minum saat sakit, anggaran belanja bulanan, tempe yang kamu makan, sampe ilmu yang kamu pakai untuk menyelesaikan tugas kantor atau PR sekolah.

Selain itu, kupasan sains populer banyak sekali ditemukan di berbagai mediaaaa…berbahasa Inggris. Saya suka iri ketika membuka media asing, seperti National Geographic, Discovery, The Atlantic, The Economist, dll. Kontennya keren, gila, mind-blowing. Sangat membuka wawasan.

Media berbahasa Indonesia?

Asik dengan lakon politik dan sinetron, atau gosip artis, atau 7 pernikahan paling unik di dunia, atau ditemukan fosil naga di perairan kepulauan nun jauh di sana, pas dibuka, eh ternyata hoax. Bahasan sains di media berbahasa Indonesia pun masih suka dianggap orang sebagai “kurang relevan” untuk kehidupan sehari-hari atau bahasan yang levelnya “ketinggian.”

Nah, saya harapkan tulisan saya dapat hadir sebagai pengisi gap tersebut.

menyuguhkan informasi empiris yang belum/jarang tersajikan sebelumnya atau meluruskan common belief dengan diusahakan sebisa mungkin ringan, menarik, dan relevan untuk keseharian kita.

Intepretasi sains mampu menjelaskan secara indah mekanisme alam dan sosial di dunia ini. Bukan bermaksud membuatnya menjadi mekanis tapi bermaksud memberikan penjelasan simplistik agar kita lebih memahami kompleksitas kehidupan.

Membantu kita membedakan mana yang ilmiah dan sok ilmiah (demi kepentingan komersil atau sekedar cari heboh atau biar terdengar keren). Membantu kita cenderung lebih humble, objektif dan fair dalam bertindak atau menanggapi sesuatu berdasarkan landasan reliable bukan bullshit.

Ibarat mengerti mekanisme sebuah “mesin”, kita jadi bisa memaksimalkan kinerja “mesin”.

Untuk menggambarkan kekaguman saya terhadap dunia sains, salah satu comic strip dari Zen Pencils berikut ini menjelaskannya dengan indah: Welcome to Science.

zen pencils welcome to science

 

Sumber gambar “This Girl Loves Science”: http://www.etsy.com/listing/104875360/this-girl-loves-science-tshirt-geek-nerd