Rahasia Kota Paling Bahagia di Dunia: Komuter!

posted in: Observasi Sosial | 7

Apa yang membuat sebuah kota layak ditinggali, a good place to live? Apakah keadaan lalu lintasnya? Harga properti di kota itu? Atau warganya yang ramah?

Kali ini, saya ingin berbagi salah satu resep rahasia untuk membentuk kota yang paling bahagia di dunia. Kita akan berkeliling dunia melihat berbagai contoh dan pelajaran dari berbagai kota di penjuru dunia.

Shakira

Sofia Vergara

Lho lho fan.. Kok tiba-tiba gambar cewek seksi? Kota bahagia itu kalo banyak cewek seksinya ya, fan? :p

Hehe, bukan. Tapi kita akan mulai dari Bogotá, ibu kota negara berkembang Kolombia, negara asal Shakira dan Sofía Vergara (aktris di serial TV Modern Family). Kota di Amerika Latin yang terkenal dengan telenovela, perang narkotikadan sempat dijuluki kota paling violent (penuh kekerasan) di dunia. Kita akan melanjutkan perjalanan ke beberapa kota dari negara-negara kaya, dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, hingga Denmark.

Tulisan ini ga akan terlalu banyak membahas keadaan di Indonesia karena emang tujuannya untuk membuka tempurung dan mengambil pelajaran dari luar sana. Dan saya akan lebih banyak menyebut Jakarta karena ini udah jadi makanan sehari-hari saya 😀 Tapi masih relevan kok untuk kota lain di Indonesia 😉

So, apa pelajaran “rahasia” yang bisa kita ambil dari kota-kota tersebut tentang happy city? Yuk, kita mulai perjalanannya..

Tahun Transformatif Bogotá

Dua pengawal lengkap dengan pistol dan holster-nya berlari kecil di belakang Enrique Peñalosa. Tidak ada yang luar biasa dari pemandangan ini mengingat Peñalosa adalah seorang politikus dan ini adalah Bogotá, kota yang terkenal dengan reputasi penculikan dan pembunuhan. Namun yang tidak biasa adalah ini: Peñalosa tidak menaiki sebuah SUV lapis baja, tetapi ia mengendarai sebuah sepeda gunung!

Enrique Penalosa Bike
Walikota Bogotá, Enrique Peñalosa (1998-2001), berpergian mengendarai sepeda

Beberapa tahun sebelumnya, hal ini bisa jadi tindakan bunuh diri dan cukup radikal untuk dilakukan di Bogotá. Kalo mau sesak napas karena asap knalpot atau jadi korban kekerasan (assault) atau tabrakan, jalanan Bogotá adalah tempat yang tepat.

Akan tetapi, Peñalosa menegaskan bahwa keadaan telah berubah. “Kami hidup dalam eksperimen. Kami mungkin tidak dapat memperbaiki perekonomian. Tapi kami bisa merancang kota yang dapat memberikan martabat ke warganya. Kota yang dapat membuat warga merasa kaya. Kota ini dapat membuat mereka merasa lebih bahagia.

Peñalosa menuturkan, sistem perkotaan abad ke-20 telah meninggalkan luka dalam bagi Bogotá, yang juga terjadi di banyak kota lain di dunia, tidak terkecuali Jakarta (menurut saya). Bogotá secara bertahap berorientasi pada mobil. Sebagian besar ruang dan sumber daya publik telah diprivatisasi.

Reorganisasi ini tidak adil mengingat hanya 1 dari 5 keluarga di Bogotá yang memiliki mobil.

Reorganisasi ini juga kejam karena penduduk kota kehilangan akses untuk merasakan kenikmatan sederhana di kota, yaitu berjalan di jalanan yang ramah atau sekadar duduk-duduk di depan umum. Sebagian besar anak-anak pun telah menghilang dari pemandangan jalanan kota Bogotá. Bukan karena takut tembakan atau penculikan, melainkan karena jalanan sudah dianggap berbahaya dengan laju kendaraan yang ada.

Tindakan pertama dan paling populer yang diambil Peñalosa sebagai walikota (periode 1998-2001) adalah menyatakan perang: bukan pada kejahatan atau obat-obatan atau kemiskinan, melainkan pada mobil!

Peñalosa yang mendapat julukan Mayor of Happiness (Walikota Kebahagiaan) ini membuang rencana ambisius ekspansi jalan tol. Sebagai gantinya, ia menggunakan anggaran tersebut untuk pembangunan ratusan mil jalur sepeda, jaringan taman kota dan alun-alun pejalan kaki, serta rapid transit system kota yang pertama (TransMilenio) yang menggunakan bus, bukan kereta api. Ya seperti TransJakarta lah. Peñalosa juga melarang warganya untuk berpergian dengan mobil lebih dari 3x seminggu.

Program tersebut mendesain ulang pengalaman kehidupan kota bagi jutaan orang. Sebuah filosofi yang tadinya banyak ditolak perencana kota di seluruh dunia selama lebih dari setengah abad terakhir.

Pada tahun ketiga masa jabatannya, Peñalosa menantang warga Bogotá untuk berpartisipasi dalam percobaan. 24 Februari 2000 merupakan car-free day pertama di Bogotá. Mobil dilarang dari jalanan selama SEHARI PENUH.

Itu adalah hari pertama dalam 4 tahun, di mana tak seorang pun tewas dalam lalu lintas. Penerimaan rumah sakit turun hampir sepertiga. Kabut beracun yang menyelimuti kota pun menipis. Masyarakat mulai optimis terhadap kehidupan kota dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Melalui referendum publikcar-free day event itu dijadikan acara tahunan setiap hari Kamis di bulan Februari. Kini, Bogotá merupakan kota yang memiliki car-free weekday event terbesar di dunia yang meng-cover seluruh penjuru kota. Selain acara tahunan ini, Bogotá juga menggelar car-free day setiap hari Minggu (seperti di Jakarta) dan hari libur nasional.

Transmilenio Bogota

Jalur Sepeda Bogota

Bogota Pedestrian

car free day bogota
Car-Free Day di Bogotá

Di suatu hari, Peñalosa mengayuh sepedanya dengan tergesa-gesa melintasi ujung utara kota menuju kaki bukit Andes. Ia kemudian tiba di sebuah kompleks yang dikelilingi pagar besi tinggi. Anak-anak berseragam putih berhamburan keluar gerbang. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun mendorong sepeda kecilnya melalui kerumunan. Peñalosa rupanya datang untuk menjemput anaknya dari sekolah.

Di sini, di jantung salah satu kota paling kejam dan termiskin di belahan Bumi, ayah dan anak bersama-sama mengayuh sepedanya dari gerbang sekolah melalui perjalanan yang tanpa beban melewati kota metropolitan. Ini adalah tindakan yang tak terpikirkan di kota-kota modern.

Saat matahari jatuh dan bersembunyi di belakang bukit Andes, mereka berbelok memasuki jalan raya yang dibangun khusus untuk sepeda. Si anak melaju di depan. Peñalosa menyusul di belakang, diikuti oleh 2 pengawalnya dan seorang perencana kota yang menjadi tamunya hari itu, Charles Montgomery.

Sambil mengayuh sepedanya, Charles tampak tak yakin dengan ideologi Peñalosa saat itu. Siapa sih yang berhak mengatakan bahwa ada satu cara berpergian yang lebih baik dibandingkan cara berpergian lainnya? Bagaimana mungkin seseorang bisa tahu tentang kebutuhan jiwa manusia untuk membentuk kota yang ideal untuk kebahagiaan?

Tapi untuk sesaat Charles mencoba melupakan pertanyaan tersebut. Ia melepaskan setangnya dan mengangkat lengannya ke udara, tersapu angin sepoi-sepoi yang dingin. Memorinya terbawa kembali ke masa kecilnya di jalanan desa ketika sepulang sekolah. Perjalanan yang santai dan penuh kebebasan. Ia merasa sangat baik. Kota ini serasa miliknya..

Kekayaan, Desain Kota, dan Kebahagiaan

Apakah desain kota benar-benar cukup kuat untuk menciptakan atau menghancurkan kebahagiaan? 

Pertanyaan ini patut dipertimbangkan karena semangat happy city ini mulai mengakar di seluruh dunia.

Jika seseorang dinilai dari kekayaan belaka, setengah abad ini seharusnya menjadi masa yang paling bahagia bagi orang-orang di Amerika Serikat dan negara-negara kaya lainnya, seperti Kanada, Jepang, dan Inggris. Namun nyatanya, ledakan dekade pada akhir abad ke-20 tidak disertai dengan ledakan kesejahteraan.

Kesenjangan Pendapatan dan Kebahagiaan di Amerika Serikat

Orang Inggris yang semakin kaya mencapai lebih dari 40% antara tahun 1993 – 2012, tetapi tingkat gangguan kejiwaan juga meningkat.

Di Amerika Serikat, terdapat kesenjangan (gap) antara pendapatan dan kebahagiaan masyarakatnya: Tingkat pendapatan masyarakat AS meningkat, tetapi tingkat kebahagiaan mereka berada pada garis datar.

Ternyata, faktor yang menahan kebahagiaan masyarakat AS (padahal diliputi kekayaan) adalah menurunnya modal sosial negara itu, yaitu jaringan dan interaksi sosial yang membuat warga terhubung (connected) dengan sesama. Kesenjangan ini bahkan lebih korosif dibanding kesenjangan pendapatan antara si kaya dan si miskin.

Sebanyak apapun kita mengeluh tentang orang lain, tidak ada yang lebih buruk bagi kesehatan mental selain keterasingan/isolasi sosial (social desert). Semakin kita terhubung (connected) dengan keluarga dan masyarakat, semakin kecil kemungkinan kita mengalami serangan jantung, stroke, kanker, dan depresi. Orang yang connected tidur lebih nyenyak, lebih panjang umur, dan lebih bahagia.

Orang yang harus menempuh perjalanan pulang-pergi kerja (commuting) lebih dari 45 menit tiap harinya adalah orang yang memiliki kemungkinan untuk bercerai 40% lebih tinggi.

Yak, mana suaranya yang suka berantem sama pasangan karena maceet? #eh

Orang yang tinggal di luar pusat kota yang lingkungannya rumah melulu dan sangat bergantung pada mobil (untuk pergi ke mana-mana), memiliki tingkat kepercayaan pada orang lain (trust) lebih rendah dibandingkan orang yang tinggal di lingkungan yang memungkinkan jalan kaki dan diselingi dengan toko-toko, tempat servis, dan perkantoran.

Kota atau daerah di Indonesia mana ya yang bisa begini? Ada yang tau? 

Semakin lama perjalanan commuting yang harus ditempuh, semakin kurang bahagia pula seseorang. Long commutes = less life satisfaction. Perjuangan menerjang lalu lintas kota membuat keseluruhan hidup orang jadi lebih buruk.

Orang dengan waktu commuting 1 jam mesti mendapatkan 40% uang lebih banyak (sebagai kompensasi) agar tingkat kepuasan hidupnya sama dengan orang yang berjalan kaki ke kantor.

Hayoo..Cek lagi duit transport dari kantor #kompor

Menukar perjalanan panjang (long commute) dengan berjalan kaki singkat ke tempat kerja memiliki efek kebahagiaan yang sama dengan menemukan cinta baru.

Jadi nih, buat para jomblo, coba deh pindah rumah ke dekat kantor biar bisa jalan kaki ke kantor. Perasaan bahagianya sama kayak punya pacar baru #eh

Ironisnya adalah semakin kita berduyun-duyun mengejar status sosial yang lebih tinggi di kota untuk kehidupan yang lebih baik (uang, kesempatan, dan hiburan), semakin ramai, mahal, tercemar, dan padat pula kota itu. Sebuah survei menunjukkan bahwa London adalah salah satu kota yang paling kurang bahagia di Inggris, padahal London adalah kota terkaya seantero Inggris.

Mobilitas dan Kebahagiaan

Ilusi Kebanggaan BerkendaraPengendara kendaraan merasakan banyak efek emosional. Mereka merasa lebih memiliki kendali (in charge) atas kehidupan mereka daripada pengguna angkutan umum. Sebuah kendaraan kelas atas sarat dengan nilai simbolis yang ampuh (tapi temporer) untuk mendongkrak status sosial.

Sayangnya, terlepas dari perasaan romantis itu, setengah dari komuter yang tinggal di kota-kota besar dan pinggiran kota mengaku tidak menyukai perjalanan heroik yang harus mereka tempuh setiap hari. Sistem perkotaan menetralkan “kekuatan/kendali” tersebut.

Mengemudi di lalu lintas sangat menyiksa untuk otak dan tubuh kita. Darah orang-orang yang mengemudi di kota udah kayak sup hormon stres. Semakin buruk lalu lintas, semakin banyak tubuh dibanjiri adrenalin dan kortisol.

Campuran hormon impulsif ini, dalam jangka pendek, membuat jantung memompa lebih cepat, melebarkan saluran pernafasan, dan membantu menajamkan kewaspadaan. Tapi, dalam jangka panjang, campuran hormon ini malah bikin sakit.

Baik itu saat mengemudi atau naik kereta, komuter yang berpergian pada peak hour (jam-jam paling sibuk) menderita stres yang lebih buruk dari stresnya pilot pesawat tempur atau polisi saat menghadapi kemarahan pengunjuk rasa!

Berarti kalo ga mau kejebak stres macetnya Jakarta, mending jadi pilot aja dong ya.. Hemhh..

Namun, ada satu kelompok komuter yang ternyata enjoy sama dirinya. Mereka ini adalah orang-orang yang melakukan perjalanan dengan keringat mereka sendiri. Mereka berjalan. Mereka lari. Mereka naik sepeda.

Mengapa bepergian dengan lebih lambat dan menggunakan lebih banyak usaha menawarkan kepuasan lebih daripada mengemudi?

Jawabannya terkait fisiologi dasar manusia. Kita dilahirkan untuk bergerak. Imobilitas bagi tubuh manusia sama seperti karat pada mobil klasik. Kelamaan kurang gerak, bikin otot-otot jadi atrofi. 1 Tulang melemah. Darah menggumpal. Lebih sulit konsentrasi dan memecahkan masalah. Imobilitas bukan sekedar keadaan yang lebih dekat dengan kematian, imobilitas juga mempercepat kematian. Orang yang lebih banyak berjalan, lebih bahagia.

Hal yang sama juga berlaku untuk pengendara sepeda. Ya walaupun sepeda punya “manfaat tambahan” yang memungkinkan pengendara malas melakukan perjalanan 3-4 kali lebih cepat dari pejalan kaki dengan energi kurang dari seperempat. Meskipun demikian, pengendara sepeda merasa terhubung (connected) dengan dunia di sekitar mereka yang kurang dirasakan pada lingkungan mobil, bus, atau kereta api yang tertutup. Perjalanan sepeda memberikan mereka kepuasan indrawi dan jasmani.

sepeda di jakarta

Era Baru untuk Sepeda

Kota-kota dan korporat sudah saatnya berupaya merangkul kompleksitas, tidak hanya dalam sistem transportasi tetapi juga dalam pengalaman manusia. Mulai meninggalkan mobilitas kuno (sistem kaku yang terfokus pada satu cara berpergian) dan merangkul mobilitas baru, masa depan di mana kita semua bebas berpergian dengan banyak alternatif.

Mobilitas Kuno: duduk di mobil, terjebak macet, keliling berjam-jam hanya untuk cari tempat parkir

Mobilitas Kuno: berdiri di tengah hujan buat nunggu bus yang ga jelas kapan datangnya

Mobilitas Baru, di sisi lain, menawarkan kebebasan lebih.

Sepeda Velib di Paris
Sepeda Vélib’ di Paris

Di Paris, sejak skema sepeda, Vélib’, diperkenalkan pertama kali, sistem sepeda ini telah mengubah wajah mobilitas Paris. Jumlah kecelakaan sepeda naik, tetapi jumlah kecelakaan per kapita turun. Dengan semakin banyak orang bersepeda, jalanan jadi lebih aman bagi pengendara sepeda karena pengendara bermotor terbiasa untuk lebih berhati-hati ketika mereka tau ada pengendara sepeda di jalan.

Fenomena ini tampaknya juga berlaku di setiap kota yang mengalami lonjakan jumlah pengendara sepeda, seperti Lyon, Montreal, Melbourne, New York, dan London. Di Paris, dan di seluruh dunia, shared system ini memberikan keleluasaan pada pengendara.

Denmark ditasbihkan sebagai negara paling bahagia sedunia tahun 2013. Salah satu faktornya adalah kebiasaan warga Denmark untuk bersepeda.Jumlah pesepeda di Kopenhagen (ibu kota Denmark) mencapai 55%. Yak, setengah penduduk kota!

Jika kita benar-benar peduli tentang kebebasan untuk semua orang, kita perlu membuat rancangan yang tidak hanya berani, tetapi juga rancangan kota untuk semua orang.

Bogota Kini: Pelajaran untuk Jakarta

Eksperimen Bogotá mungkin tidak dapat mengatasi segala kesenjangan yang ada di kota itu. Namun, eksperimen ini merupakan awal yang spektakuler dan mengejutkan banyak orang karena membuat hidup lebih baik bagi hampir semua orang.

TransMilenio memobilisasi begitu banyak orang dengan efisien sehingga pengendara mobil melintasi kota dengan lebih cepat juga. Waktu pulang-pergi kerja turun hingga seperlima. Jalanan jadi lebih tenang.

Pada akhir masa jabatan Peñalosa, tingkat kecelakaan turun hampir setengah, begitu pula tingkat pembunuhan, padahal negara Kolombia secara keseluruhan menjadi lebih bengis (violent). Ada peningkatan besar pada kualitas udara. Bogotáns menjadi lebih sehat. Kota ini mengalami lonjakan perasaan optimisme. Warga percaya bahwa hidup ini baik dan semakin baik, perasaan yang belum pernah mereka rasakan dalam beberapa dekade.

Nasib Bogotá kini telah menurun sejak saat itu. Pada 2012, warga Bogota melakukan protes terhadap sistem TransMileno yang berujung pada kerusuhan. Ribuan personel polisi turun ke jalan, puluhan warga ditangkap, belasan luka-luka, dan terjadi kerugian karena kerusakan fasilitas umum. Silakan liat gambarnya di sini.

Warga protes karena armada bus udah overcrowded banget, (dinilai) kemahalan, dan terbatasnya alternatif transportasi lain yang tersedia. Optimisme itu kini melayu.

transmilenio crowd

transmilleno full

Transmilenio queue

Mirip TransJakarta atau KRL Commuter Line di Jakarta ya.. 🙁

Lonjakan penumpang tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas bus di tahun-tahun berikutnya. Rencana ekspansi dan penambahan kapasitas armada tidak dilakukan dengan cukup cepat. Dan ada ambisi tak sampai Bogota untuk membangun metro system. Kurangnya subsidi dan korupsi pemerintah juga menghambat kemampuan sistem untuk memperluas dan mengatasi masalah.

Ini adalah sebuah bukti bahwa transportasi umum yang kuat memerlukan investasi publik dan komitmen politik (pemimpin) yang berkelanjutan.

Di seluruh dunia kini, masyarakat semakin menuntut kebijakan publik yang selaras dengan apa yang benar-benar penting bagi masyarakat, yang biasa kita definisikan sebagai kesejahteraan. Tahun transformatif Bogotá menawarkan pelajaran abadi bagi kota-kota kaya dan berkembang, seperti Jakarta.

Dengan menghabiskan sumber daya dan merancang kota dengan cara yang menghargai pengalaman semua orang, kita bisa membuat kota yang membantu kita semua hidup dengan lebih kuat, tangguh, terhubung, aktif, dan lebih bebas. Kita bisa menentukan untuk siapa kota yang kita tinggali melalui “tekanan” dan tuntutan yang kita berikan ke pemerintah. Dan kita harus percaya bahwa kota kita dapat berubah.

ganti jakarta

Disadur dari http://www.theguardian.com/society/2013/nov/01/secrets-worlds-happiest-cities-commute-property-prices

http://en.wikipedia.org/wiki/Car-Free_Days#cite_note-3

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003188.htm

http://www.theatlanticcities.com/commute/2012/03/why-are-people-rioting-over-bogotas-public-transit-system/1537/

http://www.thejakartaglobe.com/archive/bogotas-vaunted-transit-system-model-for-transjakarta-in-distress/504689/

http://thisbigcity.net/has-bogotas-transmilenio-become-a-victim-of-its-own-success/

http://www.pps.org/pdf/bookstore/How_to_Engage_Your_Transportation_Agency_AARP.pdf

Sumber gambar Shakira: http://movies.ndtv.com/music/shakira-planning-to-sell-beach-house-for-14-95-million-399923

Sumber gambar Sofia Vergara: http://screencrush.com/modern-family-season-4-promo/

Sumber gambar Penalosa: http://mla0march0penndesign.files.wordpress.com/2012/02/enrique_penalosa_bike_hr.png

Sumber gambar TransMilenio:

Sumber gambar jalur sepeda Bogota: http://4.bp.blogspot.com/-lLP8aJARF-A/UOmr1MSyNhI/AAAAAAAALvg/6J75Ph2rbAA/s1600/bogota_cicloruta.jpg

Sumber gambar pedestrian Bogota: http://img251.imageshack.us/img251/3289/1007526.jpg

Sumber gambar Car-free Day Bogota: http://plusnetwork.files.wordpress.com/2011/08/ciclovia-bogota.jpg

Sumber gambar pendapatan dan kebahagiaan di AS: http://geraldguild.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/GDP-AND-HAPPINESS-USA.gif

Sumber gambar ilusi punya mobil: http://autoshowshutdown.org/sites/autoshowshutdown.org/files/images/singerautomythreality.gif

Sumber gambar sepeda di jakarta: http://twicsy.com/i/N7h8Kc

Sumber gambar Velib: http://www.parisiensalon.com/wp-content/uploads/2009/10/velib-in-paris.jpeg

Sumber gambar padatnya TransMileno: http://derivandoenalerta.files.wordpress.com/2010/11/t1.jpghttp://3.bp.blogspot.com/_daFilM-403Q/TDYou1z78BI/AAAAAAAAAGk/3YvdjMZrROg/s1600/transmilleno.gifhttp://anapaola.files.wordpress.com/2008/04/n570279220_415509_6113.jpg

Notes:

  1. Atrofi otot: keadaan otot mengecil sehingga kekuatan otot menurun. Tidak mampu mengangkat beban dan gerakan terbatas.

7 Responses

  1. Trus diakhir cerita ente ditanya, mana rumahnya neng? Kaya cerita perokok & non-perokok. 😀

  2. nyaris gue close lagi, ketika ngebuka link yang menuju kesini, koq tiba tiba ada 2 gambar ce sexy.

  3. tiba-tiba jadi conclusion, prosesnya gimana neng? saya pengen tahu gimana kejadiannya dari protes yg dilakukan masyarakat sampai dengan akhirnya mereka merasa bahagia karena transportasi massal dan kebiasaan hidup yang berubahnya. biar ga keliatan seperti sulap…hahaha

    • Fanny Rofalina

      Traffic memang salah satu masalah mencolok di Bogota.

      Sejak era 80an, pemerintah Bogota sudah banyak meluncurkan solusi untuk mengatasi hal ini. Yang paling kentara adalah solusi Penalosa (1998-2001). Dengan memaksimalkan penggunaan transportasi umum dan menggencarkan penggunaan sepeda, masalah lalu lintas di Bogota sangat terbantu secara signifikan.

      Tapi sayangnya, pemerintah kota Bogota setelah era Penalosa tidak mampu mengeluarkan kebijakan publik yang mendukung kesinambungan proyek Penalosa sebelumnya. Seperti yang saya sebutkan di atas,

      “Lonjakan penumpang tidak diimbangi dengan penambahan kapasitas bus di tahun-tahun berikutnya. Rencana ekspansi dan penambahan kapasitas armada tidak dilakukan dengan cukup cepat. Dan ada ambisi tak sampai Bogota untuk membangun metro system. Kurangnya subsidi dan korupsi pemerintah juga menghambat kemampuan sistem untuk memperluas dan mengatasi masalah.”

      Masyarakat yang tadinya optimis berubah jadi frustasi, hingga akhirnya mereka melakukan demonstrasi.
      Jadi alurnya, dari keadaan positif ke keadaan negatif, mas 😀

      Semoga dapat dipahami.

  4. bagus ni .. ijin copas dan share yaa ^_^ akan saya cantumkan nama dan alamatnya

Leave a Reply