Nanti Saya Bahagia

posted in: Perspektif Kehidupan | 4

Ketika saya masih berumur 14 tahun, saya belajar untuk menghadapi ujian 0-level di sebuah sekolah tinggi di London. Orang tua dan guru-guru saya menasehati saya agar berhenti bermain sepakbola pada sore hari dan akhir pekan, dan mengerjakan PR saja di rumah. Mereka menerangkan betapa penting-nya ujian 0-level tersebut dan jika saya lulus, Nanti saya akan bahagia.

Saya mengikuti nasihat mereka dan lulus dengan baik sekali. Tetapi itu tidak membuat saya bahagia sekali karena keberhasilan saya berarti bahwa saya harus belajar lebih keras lagi, selama 2 tahun lagi untuk mempersiapkan ujian A-level.

Orang tua dan guru-guru menasehati saya agar berhenti berkeluyuran pada sore hari dan akhir pekan. Kalau dulu diminta berhenti mengejar-ngejar bola, sekarang diminta untuk berhenti mengejar-ngejar cewek. Di rumah saja. Mereka berkata Betapa penting nya ujian A-level dan kalau saya lulus nanti, maka saya akan bahagia.

Sekali lagi saya mengikuti nasihat mereka dan berhasil baik. Dan sekali lagi tidak membuat saya benar-benar bahagia karena sekarang saya harus belajar dengan keras selama 3 tahun lagi jauh lebih keras dari sebelumnya untuk gelar universitas.

Ibu dan para guru (saat itu ayah sudah meninggal) menasehati saya agar menjauhi bar dan pesta kampus, melainkan belajar saja dengan tekun, Mereka berkata betapa pentingnya gelar sarjana dan jika saya berhasil maka nanti saya akan bahagia.

Sampai di titik itu, saya mulai curiga.

Saya melihat beberapa teman yang lebih senior, yang telah belajar dengan tekun dan meraih gelar sarjana. Sekarang mereka bahkan bekerja lebih keras lagi untuk pekerjaan pertama mereka. Mereka bekerja demikian keras untuk menabung sejumlah uang untuk membeli mobil. Mereka berkata “Saat tabungan saya cukup untuk membeli sebuah mobil, nanti saya akan bahagia.”

Ketika mereka sudah punya cukup dana dan telah membeli mobil pertamanya, mereka masih saja tidak bahagia. Sekarang mereka bekerja lebih keras untuk membeli sesuatu yang lain dan setelah itu mereka akan bahagia. Atau mereka berjuan gigih dalam gelora percintaan, mencari teman hidup. Mereka berkata kepada saya, “Saat saya menikah dan sudah mapan, nanti saya akan bahagia.

Begitu menikah, mereka masih saja tidak bahagia. Mereka harus bekerja lebih keras lagi, bahkan mencari kerja sampingan untuk menabung cukup banyak untuk uang muka sebuah rumah kecil. Mereka berkata “Saat kami sudah punya rumah sendiri, nanti kami akan bahagia.

Sayangnya membayar cicilan bulanan untuk rumah kredit berarti mereka masih tidak bahagia. Lebih-lebih mereka akan membangun sebuah keluarga. Mereka akan mempunyai anak-anak yang menyedot simpanan mereka. Dan mereka melipatgandakan kekhawatiran mereka. Sekarang mungkin perlu 20 tahun lagi untuk mencapai apa yang mereka inginkan, lalu mereka berkata, “Ketika anak-anak sudah besar, Keluar dari rumah dan mandiri, nanti kami akan bahagia.

Saat anak-anak sudah keluar dari rumah, kebanyakan orang tua sudah memasuki masa-masa pensiun, lalu mereka terus menunda kebahagiaan mereka, bekerja keras untuk tabungan hari tua, mereka berkata, “Ketika saya sudah pensiun, nanti saya akan bahagia

Bahkan sebelum mereka pensiun, dan tentunya juga setelahnya mereka mulai menjadi religius dan pergi ke tempat ibadah. Pernahkah kamu perhatikan berapa banyak orang tua memenuhi bangku-bangku di tempat ibadah? Saya bertanya kepada mereka Mengapa mereka sekarang pergi ke tempat ibadah. Mereka berkata, “Karena saat saya mati, nanti saya akan bahagia.

Bagi mereka yang percaya bahwa “Saat saya mendapatkan ini, nanti saya akan bahagia..” kebahagiaan mereka hanyalah menjadi impian masa depan. Seperti halnya kaki pelangi yang terlihat satu atau dua langkah di depan, namun selamanya tidak bisa digapai. Di dalam hidup atau bahkan setelah hidup, mereka tidak akan pernah mewujudkan kebahagiaan.

*disadur dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya oleh Ajahn Brahm – Nanti Saya Bahagia 

4 Responses

  1. deny fatryanto

    Jadi kesimpulannya gmn mbak? Kalau menurut saya kebahagiaan itu menikmati prosesnya , hasilnya nanti adalah bonus , bila baik berarti jackpot , kalo kurang baik , setidaknya sudah bahagia saat prosesnya , bemer gotu gak ?

  2. Fanny Rofalina

    Happiness is not a pursuit, it’s a lifestyle, a state of mind. 🙂

  3. Unfortunately, most of people think like this.
    dan saya pun demikian 🙁

    “Happiness is not a pursuit, it’s a lifestyle, a state of mind” sepertinya wajib buat dicoba 🙂

    thanks 🙂

Leave a Reply