Sekolah adalah Penjara dan Merusak Anak

posted in: Observasi Sosial | 21

Orang tua mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan maksud yang baik. Para orang tua percaya bahwa sekolah adalah apa yang dibutuhkan anaknya untuk menjadi orang dewasa yang produktif dan bahagia.

Tapi apakah benar sekolah dapat berfungsi sebagaimana mestinya untuk memenuhi tujuan tersebut?

Banyak yang meragukan. Dan kebanyakan selalu berpikir bahwa hal ini dapat diatasi dengan uang yang lebih banyak, guru yang lebih baik, kurikulum yang lebih menantang dan/atau ujian yang lebih ketat.

Namun, bagaimana kalau masalah sebenarnya adalah sekolah itu sendiri?

Fakta yang disayangkan adalah sekolah sebagai salah satu institusi yang paling dihargai di tengah masyarakat, justru secara alamiah merusak anak-anak dan masyarakat kita. Sekolah adalah tempat di mana anak-anak dipaksa, kebebasan mereka sangat dibatasi. Bahkan sebagian berpendapat, jauh lebih terbatas daripada pembatasan ruang gerak dan ekspresi karyawan di lingkungan kerja.

Dan ada bukti yang kuat menyatakan bahwa model sekolah standar/konvensional ini malah menyebabkan kerusakan psikologis yang serius bagi banyak anak. Penelitian mengenai bagaimana anak-anak belajar secara alami, semakin menegaskan bahwa anak-anak itu belajar paling dalam, sepenuh hati, dan dengan antusiasme terbesar, pada kondisi yang hampir berlawanan dari kondisi yang ditawarkan di sekolah pada umumnya.

sekolah adalah penjara merusak anak

 

Sejarah Sistem Sekolah Konvensional

Wajib sekolah telah menjadi komponen tetap dari budaya kita selama beberapa generasi. Sulit sepertinya membayangkan bagaimana anak bisa mempelajari apa yang mereka butuhkan untuk sukses tanpa pergi ke sekolah. Kebanyakan orang berasumsi bahwa rancangan dasar (blueprint) sekolah berangkat dari bukti ilmiah tentang bagaimana anak-anak belajar dengan baik. Tapi, pada kenyataannya, itu hanya mitos!

Sekolah yang kita tahu sekarang adalah produk dari sejarah, bukan dari penelitian tentang bagaimana anak-anak belajar. Blueprint yang masih digunakan sekolah-sekolah saat ini dikembangkan pada masa Reformasi Protestan. Kala itu, sekolah diciptakan untuk mengajar anak-anak membaca Alkitab, kitab suci untuk dipercaya tanpa mempertanyakannya, dan mematuhi figur otoritas tanpa mempertanyakannya.

Para pendiri awal sekolah cukup gamblang menjelaskan intensi ini dalam tulisan-tulisan mereka. Gagasan bahwa sekolah dapat menjadi tempat untuk memupuk pemikiran kritis, kreativitas, dan inisiatif diri (keterampilan yang paling dibutuhkan untuk sukses dalam perekonomian saat ini) jelas bukanlah gagasan yang mendasari pemikiran para pendiri awal sekolah. Bagi mereka, pemikiran mandiri adalah ‘dosa’, yang harus ‘dibinasakan’ dari seorang anak, bukan sesuatu yang dianjurkan.

Itu di Amrik sana fan, cikal bakal sekolah di Indonesia dong..

Cikal bakal sekolah di Indonesia sebenernya sama aja sih kayak di Amrik. Dari masa Sinkretisme Buddha & Hindu-Syiwa hingga kolonialisme, sekolah adalah tempat menggembleng individu untuk melanggengkan kekuasaan kaum elit kerajaan atau memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah guna mengeruk keuntungan semaksimal mungkin bagi penjajah.

 

Antipati terhadap Sekolah Konvensional

Ketika sekolah diambil alih oleh negara dan dibuat wajib, dan diarahkan menuju tujuan sekuler, struktur dasar dan metode pendidikan tetap tidak berubah. Upaya-upaya dalam mereformasi sekolah pun gagal karena, meskipun beberapa struktur sudah diutak-atik, blueprint-nya tetap belum berubah.

Model instruksi satu arah dari atas ke bawah (top-down), dari guru ke siswa. Belajar trus ujian. Model yang pembelajarannya dimotivasi oleh sistem imbalan dan hukuman (reward and punishment), bukan oleh rasa ingin tahu. Model yang dirancang untuk indoktrinasi dan pelatihan ketaatan, tidak lebih dari itu.

Ga heran kalo banyak pengusaha dan inovator besar di dunia meninggalkan sekolah lebih awal (seperti Thomas Edison, Bill Gates, Mark Zuckerberg), atau benci sekolah dan belajar dengan caranya sendiri (seperti Albert Einstein).

thomas alva edison tentang sekolah tidak mengajarkan berpikir

bill gates tentang sekolah gagal ujian microsoft pemilik

albert einstein belajar jangan sebagai kewajiban

Bahkan hingga hari ini, “pelajar-pelajar terbaik” (mungkin terutama mereka) sering menyatakan kalo mereka capek dan eneg (burnout) dengan proses pendidikan.

Kebanyakan siswa –yang langganan dapat A, C, atau siswa gagal sekalipun- kehilangan semangat belajar pada saat mereka memasuki jenjang SMP atau SMA. Peneliti lain menunjukkan bahwa, setiap kenaikan kelas, siswa mengembangkan sikap yang semakin negatif terhadap mata pelajaran yang diajarkan, terutama matematika dan sains.

Dalam sebuah studi penelitian terbaru, 800 siswa kelas 6 SD hingga kelas 12 SMA, dari 33 sekolah yang berbeda di Amerika Serikat, diberikan sebuah jam tangan khusus. Jam tangan khusus ini nantinya menerima sinyal selama beberapa kali dalam sehari, secara acak. Setiap kali sinyal muncul, mereka harus mengisi kuesioner: mereka lagi di mana, sedang apa, dan apakah mereka sedang senang atau tidak saat itu.

Hasilnya?

Tingkat kebahagiaan terendah adalah ketika mereka berada di sekolah. Tingkat kebahagiaan tertinggi adalah ketika mereka di luar sekolah, sedang bermain atau hanging out dengan teman-teman. Di sekolah, mereka sering merasa bosan, cemas atau keduanya.

 

Observasi Pribadi

Sebagai salah satu tutor di Zenius, saya bisa menyaksikan sendiri. Suka kasihan melihat anak-anak yang sudah seharian sekolah, harus lanjut belajar di bimbel. Belajar sudah seperti pekerjaan. Lama-lama sudah seperti budak. Penampakan tipikal dari mereka adalah capek, lesu, dan udah lusuh 🙁

Akhirnya saya “iseng” bertanya pada mereka (siswa SMP kelas 7, 8, 9), “Gimana perasaan kalian terhadap sekolah?

Jawaban mereka: males, bete, bosen, boring, capek tugasnya bejibun, bingungin, nyusahin

Ketika ditanya mengenai mata pelajaran yang mereka suka, rata-rata alasan mereka menyenangi pelajaran adalah karena gurunya asik (stress-free & engaging), bisa main-main (biasanya TIK), dan mereka jago pada pelajaran tersebut sekalipun gurunya ga asik.

Ketika ditanya mengenai mata pelajaran yang tidak disukai, rata-rata alasan mereka adalah karena gurunya ga asik (bikin stres dan ga jelas), hafalan yang banyak, mereka tidak bisa melihat relevansi untuk mempelajari pelajaran tersebut.

 

Denial

Sebagai masyarakat, kita cenderung mengabaikan temuan-temuan seperti ini. Kita ga memungkiri bahwa proses belajar itu tidak menyenangkan. Kita menganggapnya seperti obat pahit, ga enak atau sulit untuk ditelan tapi baik untuk anak-anak dalam jangka panjang. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa tidak menyenangkannya sekolah justru baik untuk anak-anak, sehingga mereka bisa belajar untuk mentolerir ketidaknyamanan, karena kehidupan setelah sekolah tidak menyenangkan.

Kok kedengeran mengenaskan ya?

Mungkin pandangan-pandangan mengenaskan tentang kehidupan ini justru bersumber dari sekolah. Tentu saja, hidup memiliki pasang surut, di masa dewasa dan masa kanak-kanak. Tapi ada banyak kesempatan untuk belajar untuk mentolerir ketidaknyamanan tanpa harus menambahkan lagi sistem sekolah yang tidak menyenangkan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dari segala usia dapat belajar dengan baik ketika mereka termotivasi oleh diri sendiri, mengejar pertanyaan yang real datang dari dalam diri, dan tujuan yang benar-benar menjadi tujuan hidup mereka. Dalam kondisi seperti itu, belajar menjadi sangat menyenangkan!

 

Bakat Alami Anak yang Mati

Anak-anak lahir ke dunia ini dengan indah dirancang untuk mengarahkan pendidikan mereka sendiri. Mereka dianugerahi oleh alam dengan naluri edukatif yang kuat, termasuk rasa ingin tahu, jiwa bermain, kemampuan bersosialisasi, perhatian terhadap aktivitas di sekitar mereka, keinginan untuk tumbuh dan keinginan untuk melakukan apa yang orang lebih tua atau dewasa bisa lakukan.

Buktinya? Lihat saja masa tumbuh kembang anak dari lahir sampai usia sekolah.

i hate school calvin hobbesDengan usaha mereka sendiri, anak-anak belajar berjalan, berlari, melompat dan memanjat. Mereka belajar bahasa dari nol. Dan dengan bahasa, mereka belajar untuk menyatakan keinginan mereka, mengutarakan pendapat, menghibur, mengganggu, berteman, dan mengajukan pertanyaan. Melalui pertanyaan dan eksplorasi, mereka memperoleh pengetahuan tentang dunia di sekitar mereka. Ketika bermain, mereka melatih kemampuan fisik, intelektual, sosial dan emosional.

Mereka melakukan semua itu tanpa sistem pengajaran sistematis.

Dorongan yang luar biasa dan kapasitas belajar ini tidak mati dengan sendirinya ketika anak menginjak usia 5-6 tahun. Kitalah yang mematikan bakat alami itu melalui sistem sekolah yang memaksa. Pelajaran terbesar dan ‘abadi’ yang didapat dari sistem sekolah kita justru adalah belajar itu udah kayak kerja, dihindari sebisa mungkin.

 

Melihat Sistem Pembelajaran Lain

Bagaimana dengan anak-anak dengan sistem pembelajaran yang berbeda? Anak-anak “usia sekolah,” tapi (sengaja) tidak disekolahkan oleh orang tuanya. Atau anak-anak yang bersekolah di sekolah non-konvensional? Bagaimana dengan pembelajaran anak-anak di budaya yang tidak memiliki sekolah, seperti budaya masyarakat pemburu-pengumpul (beberapa suku di Afrika, pedalaman Amerika, Kalimantan, Papua)? Bagaimana pembelajaran di budaya yang anak-anaknya dipercaya untuk bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri dan diberikan kesempatan serta sarana untuk mendidik diri mereka sendiri?

Penelitian menunjukkan, pada sistem atau budaya-budaya tersebut, rasa ingin tahu alami anak dan semangat untuk belajar terus bersemi dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Di India, adalah seorang Sugata Mitra, peneliti yang mendokumentasikan kekuatan belajar mandiri (self-directed learning). Ia ‘menaruh’ beberapa komputer, outdoor, di lingkungan yang sangat miskin di India, di mana kebanyakan anak tidak sekolah dan buta huruf. Di setiap komputer yang ia pasang, anak-anak akan mengerubungi komputer tersebut.

Tanpa bantuan orang dewasa, mereka mencari tahu sendiri bagaimana menggunakannya. Mereka yang tadinya tidak bisa membaca, mulai bisa membaca melalui interaksi dengan komputer dan anak-anak lain di sekitarnya.

Komputer memberikan anak-anak akses ke pengetahuan di seluruh dunia. Di satu desa terpencil, anak-anak yang sebelumnya tidak tahu tentang mikroorganisme, belajar tentang bakteri dan virus melalui interaksi mereka dengan komputer, dan mulai menggunakan pengetahuan baru itu dengan baik dalam percakapan.

Sugata Mitra adalah profesor teknologi pendidikan di Newcastle University, pemenang 2013 TED Prize, memperoleh dana 1 juta USD untuk membangun laboratorium sebagai proyek barunya, Sekolah di Awan. Simak cerita seru Mitra tentang eksperimen Hole in the Wall dan proyek terbarunya di TED Talks (ada subtitle Bahasa Indonesia-nya kok).

Eksperimen Mitra menggambarkan bagaimana 3 aspek inti dari sifat manusia – rasa ingin tahu, jiwa bermain dan kemampuan sosial – dapat berpadu dengan indah untuk memenuhi tujuan dari pendidikan.

> Curiosity (rasa ingin tahu) menarik anak-anak ke komputer, memotivasi mereka untuk mengeksplorasi.

> Playfulness (jiwa bermain) memotivasi mereka untuk berlatih banyak keterampilan komputer.

> Sociability (kemampuan bersosialisasi) memungkinkan pembelajaran seorang anak menyebar seperti api ke puluhan anak-anak lain.

 

Self-Directed Learning Model (Pembelajaran Mandiri)

Pada budaya kita kini, ada banyak jalan di mana anak-anak dapat memanfaatkan drive (dorongan) alami dan naluri mereka untuk mempelajari segala sesuatu yang mereka perlu tahu untuk masa depan yang cemerlang.

Lebih dari 2 juta anak di Amerika Serikat sekarang mengenyam pendidikan di rumah dan di komunitas yang lebih besar daripada sekolah. Jumlah ini terus meningkat.

Para orang tua ini tidak memberikan pelajaran atau ujian, tetapi mereka menyediakan lingkungan rumah yang memfasilitasi proses belajar. Mereka juga membantu mengenalkan anaknya dengan kegiatan komunitas di mana mereka bisa belajar lebih. Beberapa keluarga sudah menerapkan pendekatan ini cukup lama, anak-anak mereka kini sudah dewasa dan amat berkembang di dunia universitas atau karirnya.

Survei terhadap 232 keluarga ini menunjukkan bahwa manfaat utama dari pendekatan self-directed learning terletak pada rasa ingin tahu, kreativitas dan semangat belajar anak yang berkelanjutan. Manfaat lainnya terletak pada kebebasan dan harmoni yang dirasakan seluruh anggota keluarga ketika terbebas dari tekanan dan jadwal sekolah serta beban ‘memanipulasi’ anak untuk melakukan PR yang tidak menarik bagi mereka.

Individu yang mengenyam home-schooling dengan pendekatan belajar mandiri ini datang dari berbagai latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Tapi satu hal yang tetap sama, mereka tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sukses pada masa dewasanya.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

Belum ada statistik pasti tentang jumlah anak yang mengenyam home-schooling di Indonesia. Kamu bisa menelusuri lebih dalam informasi tentang home-schooling atau home education di Rumah Inspirasi. Bisa dimulai dengan e-book gratis berikut, “FAQ Homeschooling, 7 pertanyaan yang paling sering diajukan mengenai homeschooling“. Saya suka banget dengan slogan mereka.

Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan bukan membebani.

– Rumah Inspirasi

Dengan meningkatnya popularitas pendekatan belajar mandiri hingga home education; semakin banyak pusat-pusat dan jaringan muncul untuk menawarkan resource, koneksi sosial dan kesempatan pendidikan tambahan untuk anak-anak dan keluarga yang mengambil pendekatan ini; bersama dengan perpustakaan dan community resource lainnya yang selalu tersedia dan, tentu saja, Internet; kesempatan edukasi menjadi tak terbatas.

 

Sekolah Demokratis

Bagaimanapun juga, tidak semua keluarga memiliki kemampuan atau keinginan untuk memfasilitasi anak dengan pendidikan self-directed learning di rumah. Alternatif terbaiknya adalah sekolah demokratis..

Pada sekolah demokratis, anak-anak bertanggung jawab sendiri atas pendidikan mereka. Sekolah ini menyediakan lingkungan yang mengoptimalkan kesempatan edukasi mereka dan ada banyak anak-anak lain sehingga mereka bisa bersosialisasi dan belajar.

Wah, mirip dengan sistem sekolah di Finlandia ya..

Apa saja contoh sekolah demokratis atau yang mengadopsi model self-directed learning di Indonesia?

Salah satu yang paling terkenal adalah Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sila baca infonya di sini dan di sini. Contoh lain adalah Erudio School of Art di Fatmawati, Jakarta. Simak juga video keren yang memuat kritik terhadap tujuan pendidikan sekarang dan visi sekolah Erudio.

Tapi sekolah demokratis berbeda dengan sekolah Montessori atau berbagai jenis sekolah “progresif” lainnya. Sekolah progresif lain memungkinkan lebih banyak bermain dan menawarkan lebih banyak pilihan daripada sekolah standar. Akan tetapi, sekolah progresif lain ini tetap mempertahankan sistem top-down, wewenang guru ke siswa, dan memakai kurikulum yang relatif seragam di mana semua siswa harus ngikut.

Balik lagi ke sekolah demokratis..

Penelitian berkelanjutan selama bertahun-tahun dilakukan pada salah satu sekolah demokratis di Amerika Serikat. Sekolah ini memiliki siswa umur 4 hingga 18 tahun. Mereka bebas melakukan apa saja selama di sekolah, asalkan tidak melanggar peraturan sekolah. Aturan sekolah yang diciptakan secara demokratis oleh siswa dan staf sekolah pada Rapat Sekolah, ga ada kaitannya dengan proses belajar. Peraturan sekolah hanya berfokus pada menjaga kenyamanan dan ketertiban umum di sekolah.

Sekolah ini beroperasi dengan hitungan anggaran per siswa yang masih jauh lebih murah, kurang dari setengah biaya sekolah negeri di Amerika Serikat.

Walupun sulit membayangkan sekolah seperti itu eksis, kenyataannya sekolah ini telah berdiri selama puluhan tahun. Sudah memiliki ratusan lulusan yang fine-fine aja, bisa bersaing, berkembang di dunia nyata. Mereka tidak menemukan kesulitan untuk masuk ke jurusan yang mereka inginkan atau masuk ke universitas bergengsi tinggi. Mereka juga sukses di dunia kerja. Lulusan sekolah ini pun merambah dunia kerja yang beragam, dari bisnis, seni, sains, kedokteran, profesi jasa lain, hingga juru terampil.

Siswa dengan pendekatan sekolah seperti ini belajar membaca, menghitung dan menggunakan komputer dengan cara yang playful, sama dengan anak-anak di masyarakat pemburu-pengumpul belajar berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka juga mengembangkan minat dan passion yang khusus, yang mengantarkan mereka secara langsung atau tidak langsung ke dunia karir.

Sebagai contoh, salah seorang lulusan sekolah ini yang kini menjadi masinis dan inventor sukses, menghabiskan masa kanak-kanaknya ‘bermain’ dengan balok bangunan. Lulusan lain, yang kini menjadi profesor matematika, secara intensif dan kreatif bermain dengan angka. Yang lain lagi, seorang perancang pola fashion, menghabiskan waktunya membuat baju untuk boneka, dirinya dan teman-temannya.

 

Lingkungan Kondusif untuk Belajar

Lingkungan seperti inilah yang semestinya kita harapkan dari sebuah sekolah. Sekolah dengan lingkungan yang mengoptimalkan kemampuan alami anak untuk mendidik dirinya sendiri. Lingkungan ini memberikan:

Coba renungkan. Adakah kondisi-kondisi ini disediakan di kebanyakan sekolah konvensional?

sekolah membosankan tidur di kelas

Tulisan ini tidak berusaha mengimplikasikan bahwa metode self-directed learning adalah obat yang mujarab, manjur untuk segala kondisi. Hidup tidak selalu mulus, tidak peduli apa kondisinya.

Tulisan ini juga tidak ingin menafikan bahwa banyak orang yang mendapat manfaat dari sekolah konvensional. Namun tetap kita tidak dapat dipungkiri (dan telah banyak didukung oleh temuan saintifik) bahwa dorongan dan kemampuan alami generasi muda untuk belajar, sesungguhnya cukup untuk memotivasi pendidikan seumur hidup mereka. Ketika mereka ingin atau membutuhkan bantuan dari orang lain, mereka akan minta. Hal ini yang sepatutnya direnungkan pada sistem sekolah konvensional.

Kita tidak perlu memaksa orang untuk belajar. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan kebebasan dan kesempatan kepada anak untuk melakukannya.

Tentu saja, tidak semua orang akan belajar hal yang sama, dengan cara yang sama, atau pada waktu yang sama. Tapi itu hal yang baik. Masyarakat kita berkembang berdasarkan keragaman. Budaya kita membutuhkan orang-orang dengan berbagai macam keterampilan, minat dan kepribadian.

Langkah “kecil” yang bisa kita lakukan adalah dengan memperbaiki mindset mengenai filosofi atau esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dengan begitu, walaupun anak masuk sekolah konvensional, minimal mereka jadi tidak mudah “diperbudak” oleh sistem. Anak punya pemikiran lebih mandiri dan lebih tau bernavigasi.

Kita perlu orang-orang yang mengejar kehidupan dengan semangat yang bertanggung jawab untuk diri mereka sendiri sepanjang hidup. Bukankah ini karakter para orang-orang atau inventor hebat di dunia? Orang-orang inilah yang mandiri, bertanggung jawab atas edukasi diri sendiri…

 

Bagaimana pendapatmu tentang sistem sekolah sekarang? Setujukah kamu bahwa sekolah itu seperti penjara? Silakan komentarnya.. Dan jika kamu suka dengan tulisan ini, bantu share ya.. Terima kasih 😀 

21 Responses

  1. Tulisan yang bagus meskipun gw sendiri masih pesimis di Indonesia akan berlaku hal seperti itu dalam waktu dekat dan orang2 yg mau memperjuangkan hal seperti ini juga belum banyak.

    Kalopun ditelurusi penyebabnya, gw berspekulasi karena pola didik orang tua di Indonesia jaman dulunya juga cukup ‘militan’ sehingga kita juga ikut kecipratan. Hanya saja seiring dengan perkembangan generasi, gw merasa (spekulasi lagi) akan ada gap yang besar antara orang yg pro sekolah konvensional dan org yg pro sekolah demokratis. Akan ada perdebatan sistem mana yang terbaik dan yang layak dilakukan dan ujung2 dimanfaatkan pihak2 tertentu bagaimana bisa menghasilkan keuntungan komersil dari sistem sekolah demokratis tersebut.

    Ironisnya, sepanjang masyarakat masih bangga dengan prestasi akademik siswa2 Indonesia di Internasional, namun tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapat prestasi tinggi seperti itu, maka sekolah konvensional tetap akan berjalan. Karena yg gw liat ada gap informasi disini: siswa2 Indonesia berprestasi akademik di International dianggap bisa berhasil karena pola didik sekolah konvensional, sementara kenyataan di lapangan, siswa tersebut di didik lebi demokratis (refer ke sistem nya ala Prof Yohanes Surya).

    Anyway…..gw suka dengan post yg lengkap penjabarannya seperti ini. Teruslah menulis ye 😀

    • Fanny Rofalina

      Hello mas Rendy..

      Iya, sudah ada berbagai pemerhati pendidikan yg mulai meng-highlight hal ini ke khalayak ramai. Mungkin masih sedikit, tapi better than nothing.

      Kalo aku lihat, trennya sepertinya menuju ke situ untuk beberapa tahun ke depan ini. Sekarang sudah mulai berkembang “movement” untuk membubarkan Ujian Nasional. Kurikulum 2013 yang walaupun masih acakadut, sebenernya mimpinya menuju ke situ, cuma memang fondasinya belum kuat, masih meraba-raba. Dan benar, mau bagaimanapun, kita tetap tidak bisa melunturkan corak Asia sepenuhnya. We need discipline :p

      Sistem pendidikan emang ga bisa lepas dari politisasi kebijakan. Ya kita berharap saja, pemimpin kita selanjutnya ataupun segala elemen yg memiliki wewenang untuk meluncurkan kebijakan pendidikan di negara ini bisa menemukan jembatan antara idealisme pembelajaran dengan pemenuhan kebutuhan pasar tenaga kerja dan economic development. Yah, semoga harapan ini tidak terlalu utopis.

      Terima kasih lho komennya mas Rendy. Aku banyak belajar dari feedback2 nya mas Rendy 😀

  2. Bicara tentang idealnya sistem pendidikan bagi anak (generasi baru) sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari sistem keseluruhan dalam bernegara dan bermasyarakat. Kita tidak bisa fokus pada “sekolah” semata. Karena sekolah hanyalah anak tangga terakhir dari keseluruhan jenjang persoalan. Rasanya percuma jika sekolah2 di reformasi, tapi realitas diluar sekolah tidak mendukungnya.

    Saya setuju dengan mas Rendy diatas. Bahwa yang perlu dirubah adalah cara pandang masyarakat terhadap nilai2 edukasi. Bahwa orientasi orangtua tidak lagi pada bagaimana menyiapkan anak2 yang bersaing lewat nilai2 akademik. Tapi lebih ke nilai2 substantif dan riil yang terkandung dalam proses belajar anak. Sebuah proses penting dalam tumbuh kembang mereka. Jadi yang perlu dirubah cara pandangnya dulu tentang apa itu pendidikan anak. Ketika itu telah berubah, maka sistem pendidikan formal di sekolah akan mengikuti.

    Selama sistem diluar sekolah (post graduate) masih didominasi oleh sudut pandang sempit tentang nilai atau kualitas SDM yang diwakili susunan nilai akademik, maka “pabrik” sdm nya akan tetap mempertahankan sistem yang dianut. Begitu juga peran orangtua disini. Selama paradigma tentang “anak berhasil” itu adalah yang nilai2 raportnya A semua atau 100 semua, maka sistem dan effort untuk mencapai itu akan terus berlanjut. Seperti orangtua yang menjadwalkan anaknya untuk les ini dan itu, bahkan sampai ada yang menyogok guru agar nilai2 anaknya didongkrak.

    Dan disinilah sebetulnya peran negara diperlukan. Sebuah sistem awal diluar sistem pendidikan itu sendiri harus dibuat sebagai pondasinya terlebih dahulu. Bukan ujug2 mengganti kurikulum hampir setiap pergantian menteri, rasanya itu bukan langkah yang strategis. Belum lagi urusan pendidikan nasional tidak bisa lepas dari intervensi politik, dan selalu atau bisa menjadi tunggangan yang baik bagi kepentingan2 yang bermain.

    Btw, karakter tulisan ini beda dengan yang soal horoskop kemaren yah…yang kemaren lebih gaul haha, tapi tetap menarik dan komplit. Aku share di Indonesian Atheist Parents ya…semoga bisa jadi bahan diskusi disana *JEMPOL**JEMPOL*

    • Fanny Rofalina

      Mas Abbo meringkas masalahnya dengan tepat sekali.
      Sekolah sebagai node terakhir, lingkaran setan antara institusi pendidikan dan mind set orang tua, dan pemerintah sebagai producer kebijakan.

      Layaknya semua masalah yang ada di negara ini, selama kebijakan itu lebih heavy ditunggangi kepentingan-kepentingan politik, niat baik akan selalu terjengkal. Kalo dari saya, saya sih berharap pihak-pihak yang benar-benar peduli dengan pendidikan semakin aware dan cakap untuk terjun dan survive di dunia politik atau mempengaruhi atmosfer politik Indonesia. 😀

      Hehehe, iya dong mas. Beda platform kan beda gaya bahasa. 😉
      Thanks ya komen dan share-nya mas 😀

  3. Bacaan yang sangat menarik dan relevan.

  4. red keffiyeh

    Tulisan kamu bagus.
    begini, emamng, saat ini, ortu memang tergila-gila dan bangga hanya dengan nilai sebatas angka atau huruf di rapor anaknya. Sejujurnya, aku sependapat untuk tidak menempuh pendidikan konvensional. Kenapa? Karena melalui pendidikan konvensional itu, justru bakat anak kurang terasah. Misal: seorang anak yg berbakat dalam bidang musik, haruskah dia harus menghafal teori-teori ekonomi? Saya rasa tidak perlu.
    Hanya saja, politisasi pendidikan memang menjadi salah satu masalah utamanya. Sehingga, sekolah-sekolah konvensional, masih saja langgeng. Kalaupun home schooling ada, itu tidak menjangkau kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Padahal, anak2 berbakat dari kelas menengah ke bawah juga ada. 🙂

    Kemudian, ketika anak menjadi mahasiswa, dia menjadi bangga dapat nilai A, tapi muncul kemungkinan dia tidak tau apa ilmu dari mata kuliah yg di dapatkannya.
    Anyway, it’s a nice article.

  5. Emang bener bahwa sekolah, dengan sistem yang tersedia di Indonesia, itu sangat mematikan bakat anak, baik secara akademik maupun artistik. Kenapa bisa begitu? Soalnya dalam satu kelas terlalu banyak siswa dan satu guru mengatur terlalu banyak orang. Dan satu-satunya institusi yang bisa bikin satu orang punya kontrol terhadap 40an orang lain adalah institusi militer, sistemnya komando. Maka ketika anak belajar, bukanlah mereka melakukan pembelajaran, tapi melakukan “kepatuhan” terhadap “indikator-indikator pembelajaran”. Efek jangka panjang dari sistem seperti ini bisa juga kita lihat pada saat ketika mereka dewasa dan jauh lebih memikirkan untuk mendapatkan sertifikat dibandingkan dengan mendapatkan keahlian atau pengetahuan nyata. Selain itu juga lingkungan dan kebudayaan kerja kita juga terkena dampaknya dimana orang-orang sibuk dengan “citra pekerjaan” dan apa yang disebut “indikator sedang bekerja” dibandingkan dengan indikator-indikator kunci tentang pekerjaan seperti efisiensi dan efektifitas kerja, hal ini begitu tertanam di dalam politik lingkungan kerja kita sehingga begitu banyak permasalahan dan program-program yang tidak bisa selesai secara tepat waktu, efektif, maupun efisien. Selain itu dalam sistem komando, terutama yang ditekankan dari kecil, terjadi persepsi bahwa disiplin itu hanya dilakukan ketika ada pengawasan, karena yang terjadi adalah positive-reinforcement dari perilaku-perilaku disiplin dalam koridor-koridor otoritas tertentu, seperti sekolah atau orang tua, ketika dewasa ini diproyeksikan menjadi atasan. Sehingga kita bisa melihat juga bahwa disiplin itu kurang tertanam bahkan ketika disiplin itu seharusnya menjadi salah satu kelebihan dari sistem sekolah yang kita contoh dari Jepang dan Eropa jaman dulu ini, tapi kenyataannya mereka terpaksa disiplin bukannya belajar berdisiplin. Keseluruhan dari pengaruh-pengaruh ini bergabung menghasilkan angkatan kerja yang tidak disiplin, tidak efektif, dan tidak kritis, padahal salah satu alasan adanya sekolah umum itu kan ada supaya bisa meningkatkan kualitas angkatan kerja di suatu negara, toh karena saking tertanamnya perilaku-perilaku diatas, bahkan mereka yang berwenang pun tidak menyadari hal ini, lingkaran setan.

    Memang bahwa sistem-sistem alternatif yang mungkin dapat meningkatkan hasil akhir pada anak itu ada banyak dan bermacam-macam. Tapi kan itu hanya bisa dilakukan privat, tidak bisa seragam senegara, padahal untuk membangun masyarakat tidak mungkin dengan gap diantara mereka yang akan terjadi jika kita melakukan privatisasi total, tetap harus ada suatu sistem standarisasi bahwa anak yang sehat dan normal setelah menjalani suatu pendidikan selama sekian tahun haruslah sudah mampu melakukan beberapa hal, kita hiraukan saja dulu standar-standar yang tidak rasional seperti kalkulus tingkat lanjut dan fisika modern, tapi kita fokus dulu pada fungsi pendidikan paling dasar, namun juga paling luhur, berdisiplin dan berkemampuan belajar.

    Kenyataannya begitu rusaknya sistem dan masyarakat kita kata belajar sudah memiliki konotasi yang jauh dari arti aslinya, begitu banyak lulusan dari S1 sampai S3 yang bisa dibilang tidak pernah belajar, karena mereka dalam sistem sekarang yang begitu terprogram pada “indikator-indikator pembelajaran” yang tidak mencerminkan realita sehingga mereka hanyalah berkeahlian untuk menyelesaikan ujian, bukan berkeahlian dan berpengetahuan dalam arti yang sebenarnya. Membingungkan memang menemukan ada saja orang2 yang dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar tapi tidak mampu menarik benang merah antara pengetahuan-pengetahuan tersebut, sehingga pikirannya menjadi semacam koleksi fakta saja, bukan kemampuan pikir yang sebenarnya. Mereka menjadi seperti robot terprogram, mungkin lebih tepat disebut “tentara buku” dibandingkan dengan pemikir dan pelajar yang mungkin tidak punya semua fakta tapi mampu menemukan fakta-fakta tersebut dengan logikanya. Kenyataannya dengan datangnya teknologi baru dengan era pembelajaran baru seperti sekarang, ingatan dan kumpulan fakta yang ensiklopedik itu sudah makin berkurang harganya, jauh lebih penting kita mengajarkan bagaimana anak-anak mengolah begitu banyak informasi yang tiap hari makin bertambah, rumus dan dasar teori bisa dicari kapan saja, pembentukan pola pikir itu yang butuh waktu dan dedikasi dan disiplin, dan itu saya kira mustahil tanpa melakukan beberapa aspek dari sistem pembelajaran komando yang ada sekarang.

    Jadi kemungkinan DPR kita sudah mengarah ke arah yang benar dengan memulai mencontoh Finlandia tapi masih diragukan kemampuan berpikir para ahli2 pendidikan kita yang “distempel” menjadi ahli2 pendidikan ini untuk mengolah dan mengaplikasi sistem pendidikan Finlandia di negara kita ini. Orang mau nyontoh sistem penjaminan mutu terpadu aja masih tertatih-tatih, apalagi sistem pendidikan yang jauh lebih rumit dan sulit.

    • Fanny Rofalina

      Aaakk, selalu suka dengan komen-komennya, mas Thomas.
      Terima kasih komennya mas. Keren dan selalu memberikan insight yang memperkaya. Jatuh cinta <3

  6. Bakat Alami Anak yang Mati.. itu yang paling menyakitkan …
    saya harus lebih banyak baca lagi kak dari tulsan-tulisan ka fanny .. ini bener-bener awesome banget andai setiap pengajar atau paling tidak setengah dari mereka mempunyai pola pikir seperti ini … 😀

    • Fanny Rofalina

      sayangnya banyak tenaga pengajar yang juga menjadi robot lulusan sistem ini, jadinya lingkaran setan deh..

  7. Hi Fan!

    Trims noticenya, ini artikel yang menarik. Dan salah satu yang gw suka dari cara nulis lo adalah pola masalah -> presepsi yang mendasari -> presepsi alternatif.

    Gw setuju dengan pendidikan konvensional yang “terlalu berlebihan” dan “kehilangan jiwa”. Dulu gw pernah jadi korban karena suka bertanya dan mengkonfirmasi. Gw dikirim ke psikologi bersama anak-anak yang “bermasalah” :))

    Gw highlight berberapa doktirn yang kau munculkan disini: self-directed learning, kebahagiaan, bakat, penjara, nilai oriented, dan home scholling.

    Gw setuju tu, tentang hal-hal yang kau angkat, termasuk home scholling. Apa lagi setelah gw sempat diskusi langsung dengan yang membuat Rumah Inspiratif 😛

    Cuma yang gw lihat yah, model sekolah konvensional itu memberikan alasan anak untuk belajar. Kalau counter example yang diberikan adalah Edison dan Enstain, mereka berdua pencilan. Mereka berdua pembelajar, senang akan ilmu, dan punya mimpi. Kondisi yang ada di Indonesia, mimpi yang ada adalah “gw punya banyak duit”, “gw pengen jadi artis”, “gw pengen jalan-jalan keluar negeri”, dan jangan lupa tambahkan “tanpa usaha banyak”. :))

    Sekolah konvensional, memberikan mereka alasan untuk memaksa diri mereka mempelajari sesuatu yang mereka nggak suka. Yang menarik, dan belum diangkat dalam tulisanmu, adalah cara apa yang digunakan sekolah demokrasi dan progresif untuk memberikan alasan bagi siswa-siswanya untuk belajar. Gw berencana berjalan-jalan ke tautan yang kau berikan si, tapi kalau akan mengangkat topik ini, gw tak sabar menunggu untuk membaca bagaimana kacamata mu melihatnya 🙂

    • Fanny Rofalina

      Nah itu dia Andreas.
      As you can see from some comments above, ada lingkaran setan di situ. Sistem konvensional yang ada sekarang lah justru mematikan semangat belajar itu, membentuk mindset bahwa kita butuh sekolah untuk dapat gelar supaya survive. Makanya kita jadi “terpaksa” belajar, bukan belajar karena kitanya ingin belajar.
      Inilah yang jadi bahan bakar pada sistem self-directed learning. Anak-anak mempelajari sesuatu yang mereka ingini. Semangat untuk belajar itu datang dari dalam diri, bukan faktor eksternal. Dorongan dan kemampuan alami generasi muda untuk belajar, sesungguhnya cukup untuk memotivasi mereka mengejar pendidikan seumur hidup mereka. Ketika mereka ingin atau membutuhkan bantuan dari orang lain, mereka akan minta. Hal ini yang sepatutnya direnungkan pada sistem sekolah konvensional.

  8. Kalau semua guru itu memilih jadi guru, dan serius sebagai pendidik bukan sekedar pengajar, mungkin sekolah bisa jadi tempat yang asyik. Tapi pastinya harus didukung oleh system pendidikan yang ada.

    Tulisan yang menarik

    • Fanny Rofalina

      Hiyep, sayangnya banyak guru yang ga sadar kalo mereka “cuma” kerja ya. But well, who am I to judge.. Hehehe
      Saya hanya berharap semua elemen yang terlibat di pendidikan Indonesia menyadari penuh esensi dari pembelajaran. Jika core philosophy-nya udah bener, yg lain2 pasti ikut membaik.
      Terima kasih ya komennya, yunika 🙂

  9. Memang gue setuju banget tuh , sebener nya memang betul sekolah ituu tidak perlu ada pelajaran yang berbeda beda seperti mtk , ips , ipa , dsb nya ituu kan hak anak anak indonesia ataupun berbagai negara yang lain bahwa sanya , bakat yang kita punya tidak perlu belajar di bidang segalanya karna cuma hanya 1 bidang itulah bakat kita , tidak perlu di borong atau di angkut mata pelajaran di setiap sekolah seharusnya yang menjadi toleran buat anak anak penerus bangsa , berapa banyak anak yang punya bakat untuk mengembangkan ilmu ini ilmu ini seperti ituu tidak perlu repot repot mengahafal semua mata pelajaran sebenernya bakat kita cuma 1 , dan begitupun dengan saya , kalian mengerti , contoh : anak yang bisa memainkan alat fiano khusus saja berikan dia sekolah musik fiano dan tidak usah ada menyangkut pelajaran pelajaran yang lain , dan contoh contoh yang lain , karna kesuksesan ituu bukan menghafal semua mata pelajaran , tetapi bakat yang kita sukai 🙂 , setiap individu pasti berfikir seperti saya buktinya guru guru di dunia ada yang mengajar , ilmu kedokteran , ips , ipa , mtk dsb nya , mereka cuman hanya punya 1 bidang bakat tetapi mereka bersusah payah menghafal semua mata pelajaran padahal sebenernya bakat mereka cuma 1 buktinya mereka mengajar hanya 1 bidang , mereka tidak belajar dengan berbeda beda , segalanya hanya bakat , usaha , percaya diri , tawaqal , banyak bersyukur , berdoa dan ikhtiar , ituu jalan kesuksesan , mohon maaf jika ada salah 🙂

  10. Saya sangat setuju bahwa sekolah kita hanya menjadi proses homogenisasi. Menciptakan batu bata yg sama, padahal kita punya potensi yg berbeda.

  11. Hallo fan (gue panggilnya ga usah pake kak ya). Gue suka dengan cara menulis lo. Ini artkel 2013 ya? Sekarang udah 2014 aja. Semoga aja lo masih ngurus blog lo dan jawab komen gue hahaha

    there was always a sense of, “School is something we have to do.” Not of it being something exciting or a real opportunity. Mungkin itu berlaku di Indonesia bahkan negara bagian barat sekalipun.

    Sebelum baca artikel ini, gue udah baca artikel yang ada di ted (http://blog.ted.com/2014/08/14/what-can-the-american-and-british-education-systems-learn-from-classrooms-in-the-developing-world/). Ini ngebuktiin sistem pembelajaran dinegara barat juga ga selalu mantep. Emang kita butuh mutlak inovasi inovasi biar pembelajaran bisa asik dan masuk ke otak siswa. Dan tombak terakhir untuk itu adalah guru. Sayang banyak guru (gue ga bilang semua loh ya) yang tidak sadar bahwa mereka punya dua fungsi yaitu sebagai tenaga pengajar DAN tenaga pendidik.

    Sebelumnya gue juga udah ndengerin presentasi dari Pak Ken Robinson yang judul nya “How School Kill Creativity” http://www.ted.com/talks/ken_robinson_says_schools_kill_creativity . Kebanyakan gue juga setuju sama apa yang diutarakan beliau sih

    Pangkal masalah dari semua ini berarti pendidikan konvensional ya? Banyak masalah bercabang dari sistem ini. Misal, ini bisa jadi fungsi pembeda dalam masyarakat. Status pendidikan seseorang menentukan akses terhadap informasi dan kekuasaan dalam masyarakat. Masyarakat tersekat-sekat berdasarkan kelas pendidikannya. Lulusan SD berkumpul dengan lulusan SD, lulusan master ngobrol dengan yang sederajat. wkwk Ironi

    • Fanny Rofalina

      Iya, yang bobrok yang mindset konservatif itu.

      Kalo untuk pendidikan Barat, yang sedang naik daun akhir-akhir ini adalah pendidikan di negara-negara Skandinavia, khususnya Finlandia. Beberapa tahun terakhir skor pelajar lagi tinggi-tingginya tuh. Gw udah pernah nulis di sini http://rofalina.com/2013/03/pendidikan-di-finlandia-yang-terbaik-sedunia.html

      Dan iya, ga semua orang yang terjun di dunia pendidikan merupakan pemerhati atau peduli ttg pendidikan. Yang penting kerja dapat duit. Tanpa tau makna eksistensinya dari keseluruhan sistem.

      Thank you banget ya udah mau komen. Sampe remind gw segala di Twitter. I really appreciate that . 🙂

  12. hai fan, gw suka bgt artikel lo, ngebantu bgt dalam pencarian jati diri gw sebagai pelajar dan ngebuka wawasan baru jg bwt gw ternyata tanpa belajar di sekolah pun kita bisa bersaing dengan anak yang belajar di sekolah bahkan bisa lebih hebat pula. ngmng2 di paragraf paling pertama artikelnya kayak di soal SBMPTN 😀

    • Fanny Rofalina

      Hai Agung.

      Thank you ya udah mampir di mari.
      Iya, tanpa sekolah, seorang bisa jadi sukses. Tapi mesti dicatet nih, orang2 kayak Bill Gates meninggalkan sekolah dan kemudian jadi sukses, karena mereka udah ngerti sama kemampuan dirinya. Mereka udah ngerasa, school is to slow for them. Mereka udah kepikiran sesuatu yang lebih besar daripada yang diajarkan di sekolah. Jadi, daripada meraka wasting time duduk di bangku sekolah, mereka udah bisa ngeliat, “mendingan gw keluar, ambil risiko, dan mewujudkan ide besar gw sekarang.”

      Soal SBMPTN? Oh ya? SBMPTN yang mana? Mana mana, bagi dong link nya 😀

Leave a Reply