Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi: Apa Bedanya?

posted in: Sains | 43

Pandangan awam di masyarakat kita:

Kebanyakan orang yang berjenis kelamin laki-laki, gendernya maskulin, dan orientasi seksualnya kepada orang perempuan. Yang tidak demikian, juga ada.

Kebanyakan orang yang berjenis kelamin perempuan, bergender feminin, berorientasi seksual kepada orang laki-laki. Yang tidak demikian pun juga ada.

Tapi bukan berarti orang yang tidak sama dengan orang kebanyakan, lantas identik dengan orang yang mengalami gangguan atau abnormal.

Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi pada dasarnya adalah konsep yang saling independen, masing-masing berdiri sendiri, tapi sering dicampuradukkan! Orang suka menyamaratakan penggunaan istilahnya. Apa yang seharusnya disebut jenis kelamin, dibilang gender, atau sebaliknya. Banyak lagi contoh lain dari ketidaksesuaian penggunaan istilah ini.

Karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang 3 konsep yang independen ini, banyak yang ga ngerti dengan seksualitas diri sendiri. Plus, nilai-nilai heteronormatif yang sangat mengakar di masyarakat membuat banyak individu merasa “aneh” sendiri.

Di tulisan ini, saya mengajak kamu untuk “membuka mata” akan keberagaman seksualitas di tengah masyarakat sekaligus menelusuri dan memahami seksualitas diri sendiri.

Jadi, jenis kelamin itu apa? Gender itu apa? Orientasi itu apa? Bedanya apa? Yuk mari..

 

Jenis Kelamin

Fisik alat kelamin seorang individu. Kategori yang langsung disematkan dokter kandungan atau bidan atau dukun beranak ketika seorang bayi lahir ke dunia. Kalo punya penis, ya laki-laki. Kalo punya vagina, ya perempuan.

Baca lebih lanjut: Kajian Gen dalam Menentukan Jenis Kelamin

Walaupun jenis kelamin merupakan karakteristik biologi yang cukup definitif, tapi banyak juga individu yang karakteristik gen dan fisik luarnya bertolak belakang. Hal ini disebut dengan Intersex.

Secara sederhana, diketahui jika orang berkromosom XX itu perempuan, sedangkan yang XY laki-laki. Padahal tidak selalu demikian. Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki-laki, orang yang berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan.

eden atwood intersex
Eden Atwood – Wanita Intersex [1]

Contoh wanita yang memiliki DNA laki-laki (Androgen Insensitivity Syndrome/AIS) adalah Eden Atwood, musisi jazz Amerika. Ia juga sempat meniti karir sebagai aktris dan model.

Secara fisik, lumayan lah. Suaranya juga asik, cari aja di YouTube. Tapi siapa yang sangka kalau dia adalah setengah laki, setengah perempuan. Yup, dia memiliki vagina, tapi tidak punya rahim. Dan, di internal tubuhnya, ia memiliki testis.

Eden Atwood cuma salah satu contoh. Masih banyak lagi variasi dari intersex. Ada kromosom XXX, XXY, XYY, dll.

Eh tapi, intersex beda ya dengan transgender (gender dysphoria). Pada individu transgender, organ reproduksi dan kelamin berkembang baik, tapi ia merasa identitas gendernya tidak cocok dengan kelamin biologisnya.

Hah? Maksudnya gender tidak cocok itu apa? Yuk lanjut ke pembahasan tentang gender.

Gender

Jika jenis kelamin adalah karakteristik biologis, maka gender adalah karakteristik mental dan perilaku (ekspresi) berkenaan dengan karakteristik biologis tadi. Gender ini dikonstruksikan secara sosial (budaya).

Gender sendiri terbagi lagi menjadi 2 konsep, yaitu identitas gender dan ekspresi gender.

Identitas Gender

Bagaimana seseorang memandang dirinya (personal sense). Kelamin perempuan, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai pria. Kelamin laki, punya penis, tapi bisa saja ia memandang dirinya sebagai wanita, “aku salah tubuh..

Ekspresi Gender

Cara seseorang mengekspresikan gendernya melalui perilaku, cara berpakaian, gaya rambut, hingga gaya bicara. Bisa feminin, maskulin, atau androgini (tidak feminin dan tidak pula maskulin, tengah-tengah).

gender spektrum identitas ekspresi
Gender adalah Spektrum [2]

Ekspresi gender juga independen terhadap identitas gender. Seseorang bisa saja memandang dirinya sebagai perempuan tulen tapi suka berpenampilan tomboy.

Baca lebih lanjut: Keberagaman Seksualitas dan Gender di Nusantara

shiloh tomboy kingston feminin
Shiloh, anak perempuan Angelina Jolie, yang tomboy | Kingston, anak laki-laki Gwen Stefani, gemar berpenampilan feminin [3]

Orientasi

Pola ketertarikan seksual dan emosional seseorang terhadap suatu objek. Objek tersebut bisa berupa lawan jenis, sesama jenis, binatang, pohon, sampai meja..

Masyarakat umum biasanya paling mengenal atau pernah mendengar orientasi heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Tapi, masih banyak lho bentuk orientasi lainnya yang agak jarang kita dengar. Dan tentu, individu dengan orientasi tersebut eksis di tengah masyarakat. Apa saja?

Heteroseksual

Ketertarikan seksual terhadap individu dengan jenis kelamin berbeda. Pria tertarik pada wanita. Wanita tertarik pada pria.

Homoseksual

Ketertarikan seksual terhadap individu dengan jenis kelamin yang sama. Pria tertarik pada pria (biasa disebut gay). Wanita tertarik pada wanita (lesbian).

Biseksual

Bisa tertarik pada lawan jenis, bisa tertarik pada sesama jenis.

Aseksual

Orang yang sangat sedikit bahkan tidak sama sekali merasakan ketertarikan seksual. Kebanyakan orang merasakan hasrat intrinsik untuk melibatkan aspek seksualitas (aktivitas dan ekspresi) pada hubungan mereka. Nah, orang aseksual tidak merasakan hasrat tersebut. They don’t crave for sex, no hunger for sex.

Demisexual

Orang yang memiliki ketertarikan seksual hanya setelah ia benar-benar memiliki ikatan emosional yang kuat dengan seseorang.

Gray-asexual

Tengah-tengah antara seksual dengan aseksual. Individu gray-asexual bervariasi, bisa salah satu dari kemungkinan berikut.

  • Default-nya tidak merasakan ketertarikan seksual, tapi kadang bisa juga merasakan ketertarikan seksual, atau
  • Punya ketertarikan seksual, tapi sex drive-nya (dorongan seksual) rendah, atau
  • Secara teknis sih seksual, tapi dia merasa seks bukanlah bagian yang penting atau tidak perlu diprioritaskan dalam hidupnya, atau
  • Orang yang merasakan ketertarikan dan dorongan seksual, tapi tidak cukup kuat sampai membuatnya ingin melakukan aktivitas seksual, atau
  • Orang-orang yang menikmati dan menginginkan seks, tapi hanya dengan kondisi dan syarat tertentu dan spesifik

Tidak tertutup variasi gray-asexual lain dari yang disebutkan di atas. Ya namanya juga abu-abu..

Pansexual

Orang yang tertarik pada berbagai jenis gender. Gender-blind. Baginya, gender ga penting. Jadi dia bisa suka dengan individu yang feminin, andro, maskulin, transgender,, pokoknya semua tipe gender.

Polysexual

Ketertarikan dengan banyak tipe gender, tapi ga semuanya.

Wait, fan. Ada gitu orang aseksual? Kok bisa ada orang ga tertarik sama seks? Ga punya hasrat seksual?

Nah itulah dia. Jika kita menelanjangi topeng masyarakat, sebenarnya populasi orang aseksual cukup mengambil porsi. Di Inggris sendiri, populasi aseksual mencapai 1%, berarti sekitar 600 ribu jiwa. Jumlah penduduk kota Jogja aja masih kalah (sekitar 300 ribu jiwa).

Kultur kita yang terlalu mempopulerkan dan “memuja” seks membuat kita merasa aneh ketika mendengar kalo ada segelintir orang yang kurang atau bahkan tidak tertarik pada seks.

Tapi sebenarnya apa definisi dari ketertarikan seksual? Simpelnya begini.

Ketika para wanita heboh melihat pria yang tampan dan badan oke, seperti Adam Levine atau Super Junior. Dan ketika para pria heboh melihat aduhai-nya para personil SNSD atau Victoria’s Secret’s Angels. Nah, individu aseksual itu ga ngerti sama kehebohan itu. They can’t relate to the attraction. Mereka ga ngerti seksinya personil SNSD atau Adam Levine atau objek apapun yang biasa dilihat masyarakat awam sebagai seksi, cantik, tampan. Mereka ga ngerti kenapa orang-orang doyan dan penasaran dengan hubungan intim. Ya, mereka pun ga ngerti apa enaknya hubungan seksual.

Karena dibesarkan di lingkungan yang sangat mempopulerkan seks, jadinya individu aseksual angguk-angguk aja sama definisi seksi, cantik, dan tampan yang beredar di masyarakat luas. Mereka cukup tau, “hoo yang begitu adalah yang biasa dibilang seksi.” Tapi secara internal, individu aseksual tidak memahami parameter tersebut.

Sama seperti pria homo ga bisa relate jika pria hetero mengatakan, “Apa sih enaknya cowok, cewek itu seksi men“. Pria hetero dan pria homo berdiri pada platform yang berbeda.

Si lesbi berkata, “Apa sih enaknya pria. Wanita itu adalah makhluk terindah di dunia“. Pria gay menjawab, “lah, apa enaknya wanita. Pria itu makhluk yang terindah di dunia“.

Nah, seperti didefinisikan di awal, orientasi itu meliputi ketertarikan seksual dan emosional, jadi sebenarnya orientasi dibedakan lagi atas orientasi seksual dan orientasi emosional (romantis): ketertarikan pada seseorang untuk memberikan dan menerima affection (kasih sayang).

Jenis-jenis orientasi romantis sama saja dengan orientasi seksual. Kalo untuk orientasi seksual, kita pake akhiran –sexual, untuk orientasi emosional ya tinggal tambahin akhiran –romantic. Dan yap, orientasi seksual dan emosional seseorang bisa saja berbeda. Contoh, seseorang tertarik secara seksual pada pria dan wanita (biseksual) tapi hanya merasakan koneksi emosional pada wanita (homoromantic).

orientasi seksual romantis emosional
Orientasi Seksual dan Orientasi Romantis [4]

3 Konsep yang Independen

Karena ketiga konsep ini bersifat independen, maka jenis kelamin, identitas gender, ekspresi gender, dan orientasi seksual dan emosional seseorang bisa berbeda atau tidak berkaitan satu sama lain.

Konstruksi sosial yang awam akan “menuntut” eksistensi arkaik, seperti jenis kelamin laki-laki, identitas gender laki-laki, ekspresi gender maskulin, dan tertarik pada wanita.

Padahal di luar sana, variasi-variasi di bawah ini sangat mungkin eksis:

  • jenis kelamin laki-laki, identitas gender laki-laki, ekspresi gender androgini, dan tertarik pada wanita dan pria
  • jenis kelamin perempuan, identitas gender laki-laki, ekspresi gender feminin, tertarik secara seksual pada wanita dan pria, tapi tertarik secara emosional hanya dengan wanita.
  • daan masih banyak variasi lainnya.

Ga semua pria gemulai (ekspresi gender: feminin) itu homo, yang macho bisa aja gay. Ga semua wanita tomboy (ekspresi gender: andro) itu lesbi, yang feminin abis bisa aja lesbi. Dan ga semua pria atau wanita seksi itu tertarik sama seks.

Bingung? Ribet? Enggak kok. Sebenarnya simpel banget!

Dikotomi kiri-kanan tidak bersifat absolut, semuanya bersifat spektrum. Secara indah dirangkum di gambar ini.

genderbread jenis kelamin sex gender identitas ekspresi orientasi seksual emosional romantis
Genderbread Person: Rangkuman Jenis Kelamin, Gender, dan Orientasi [5]

Nah, sekarang saya tanya. Jenis kelamin kamu apa? Gender (identitas dan ekspresi) kamu apa? Orientasi (seksual dan emosional) kamu apa? 😉

Tidak serta-merta yang berbeda itu abnormal. Hanya umum dan tidak umum.

Individu intersex, aseksual, homoseksual, hingga transgender dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik dan bahagia akan kehidupannya.

Variasi di dunia sangat tidak terbatas. Dunia ini indah dengan keanekaragamannya. Kotak-kotakmu yang arkaik hanya akan menafikan keindahannya.

Suka dengan tulisan ini? Bantu saya share pengetahuan ini ke lebih banyak orang. 

43 Responses

  1. Keren Fan! Hehehe..
    Gw gak tau ni mesti ngomong apa. Yang jelas yang kepikiran sekarang di gw itu ini..

    Pernah ada satu teman yang nanya ke gw, kenapa orang bisa ada yang homo dan lesbi?
    Kok bisa sih dia (cewek) sukanya sama cewek? Dia (cowok) sukanya sama cowok?
    Kenapa sih dia malah “MILIH” buat jadi gay? //dengan nada yang sedikit merendahkan
    Kenapa sih dia emangnya gak pengen normal apa?

    Trus gw bilang gini.
    Coba bayangin.. Bayangin diri lu yang sekarang (dia seorang cowok)..
    Bayangin.. Rasain.. Rasakan dengan khidmat semua naluri yang lu punya sekarang.. (which is dia adalah cowok straight, yang sukanya sama cewek straight)

    Trus..! Somehow!
    Dengan perasaan dan sifat lu yang lu punya sekarang..
    Bayangin tiba-tiba tubuh lu berubah jadi CEWEK.
    Semua onderdil cowok yang lu punya hilang. You are physically a woman. Tapi dengan feeling seorang cowok.

    Apa yang lu rasain?

    Trus gw bilang gini..

    It’s not about choice to be normal or not normal.
    Dia/mereka (entah banci atau lesbi atau apalah), memang diciptakan Tuhan (he believes God anyway) dengan sifat yang seperti itu, dan tubuh yang seperti itu..
    Jadi, itu BUKAN penyakit atau kelainan..
    It’s fate.
    Dia/mereka memang diciptakan seperti itu.

    Sama halnya ada orang yang dari lahir bawaannya pemarah.. Ada yang dari lahir bawaannya sangat penyabar.. Mereka tidak “memilih” untuk dilahirkan seperti itu, tapi mereka bisa “memilih” untuk mengendalikannya.

    (Which later I use theistic argument to him that it’s actually one of God’s way to choose what kind of life problems He want to gives to His servants)

    And by the way, faktor lingkungan tentu saja ada pengaruhnya. Bagaimana dia dibesarkan, bagaimana kultur dan budaya di sekelilingnya, yang mungkin bisa suppress or elevate setiap potensi yang dia punya. Ingat, bayi itu tidak dilahirkan seperti kertas putih, lho.
    Se-pure apa pun mereka waktu baru dilahirkan di dunia, mereka pasti punya sifat bawaan yang sudah diciptakan Tuhan dari sananya.
    (Which in scientific argument is called Genetics)

    Then, he nodded quietly, and never complain about “disoriented” people anymore. 😀

    • Fanny Rofalina

      Wow, that’s very great, onyak. Thanks for sharing your argument. Hehee..

      Di tulisan ini gw emang fokus ke pemaparan definisi dan kategori untuk menunjukkan keberagaman. Karena gw percaya, untuk pengetahuan yang begini saja, masih banyak yang belum ngeh 😀
      Mungkin selanjutnya gw bisa tulis lebih dalam tentang faktornya.

      Thanks again onyak..

  2. wow , nice article

  3. Wow. Pengetahuan baru buat gue. Thanks Fanny for sharing this. Gue share ya.

  4. natalia eka

    ijin share ya, mbak.

  5. Hmmm…..
    Saya bukan orang yang terlalu liberal dalam memandang masalah ini. Namun juga bukan orang yang konservatif (kalau tidak boleh disebut kolot)…
    Saya tergelitik untuk bercerita tentang “orientasi”.. Yang mana biasanya orang kebanyakan melihatnya sebatas “homo, hetero dan biseks”…
    Saya tak menafikkan bahwa eksistensi orang yang berorientasi “tidak umum” atau “tidak mainstream” itu ada. Bahkan saya punya kawan yang seperti itu.

    Basically, dalam bergaul saya tidak terlalu peduli terhadap orientasi kawan saya apalagi menghakimi orientasi mereka.
    Dalam hal ini, saya memilah sikap saya menjadi dua sikap.
    1. Sebagai penganut agama saya, saya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang “salah”
    2. Namun, sebagai penghuni bumi yang majemuk ini, saya melihatnya sebagai hak pribadi. Jadi silakan saja mau berorientasi seperti apa. Sama hal nya saya melihat orang yang memakai narkoba, sebagai orang beragama saya melihat itu perbuatan salah. Sebagai warga negara bumi, saya melihatnya sebagai hak orang itu memakai narkoba. Silakan saja. Yang penting saling menghormati dan menghargai pilihan masing-masing.

    Masa remaja hingga kini saya tumbuh dalam komunitas yang sangat menjunjung tinggi keberagaman. Sebut saja komunitas punk/hardcore/underground. Saya bergaul dg berbagai macam orang yang “berbeda” dengan saya. Saya beragama, kawan saya atheis. Saya heteroseks, namun saya punya kawan seorang homoseks. Saya tidak merokok. kawan saya merokok. Saya tidak nge-drugs, kawan saya pun ada yang nge-drugs..
    Dari situ, saya dan kawan-kawan saya terbiasa berpikir “itu hidupmu, silakan pilih apa yang kamu mau. Yang penting jangan mengganggu yang lain. Saling menghormati”.

    Kembali ke konteks orientasi seks. Saya pun berpikir begitu. “Silakan mau jadi hetero, homo atau biseks. Yang penting jangan mengganggu yang lain. Saling menghormati”.
    Kita pasti pernah dengar pelecehan2 seksual yang dilakukan oleh kaum hetero terhadap hetero yang lain, atau kaum homo terhadap kaum hetero, atau kaum hetero terhadap kaum homo dan seterusnya. Nah, itu yang saya maksud “saling menghormati”. Jangan colek colek tanpa ijin terhadap orang lain. Entah kita sebagai hetero/homo/biseks.

    Akhir kata, ada beberapa hal yang tidak bisa kita tutup-tutupi terus menerus dalam pergaulan sosial kita. Salah satunya mengenai orientasi itu. Keberadaan orang dengan orientasi yang tidak seperti orang kebanyakan tak dipungkiri eksistensinya. Yang terpenting adalah saling menghormati pilihan masing-masing.

    Salam!

    • Fanny Rofalina

      Yeph benar mas. Terima kasih atas komennya mas ^^

    • mas maaf saya sedikit ingin mengomentari bahwa pandangan mengenai salah/benar hak pribadi asal tidak dipaksakan ke pihak lain. Tp saya hanya kurang setuju kalau homoseksual disandingkan dengan salahnya perokok dan pemakai narkoba karena perbedaan orientasi tidak mengganggu dan merusak spt yg dua. makasih. selebihnya saya salut buat mas yg bs menerima perbedaan.

    • notgeekyguy

      Setuju dengan satria. Komentar mas wisnuaji terkesan kontradiktif. Sementara mengakui untuk menghargai & menerima, mas wisnu yg mengaku sbg mayoritas/hetero kemudian menilai orientasi yang lain setara dengan pilihan untuk menjadi perokok/pemakai drugs, yg mn dapat diasumsikan dianggap oleh wisnu (dan masyarakat pd umumnya) memiliki sifat; dapat dipilih, & merusak/mengganggu, baik di tingkat personal hingga societal. Pengakuan untuk menghargai pun menjadi goyah, dan melihat dr latar belakangnya, yg dilakukan mas wisnu terlihat lebih untuk fit in di lingkungan pergaulannya (atau dalam hal ini forum ini?) dibandingkan untuk benar-benar mengakui bahwa fenomena ini murni manusiawi.

      All in all, salut untuk Fanny. Tulisan yg bold dan membuka wawasan. Ada opini tentang pandangan nature vs nurture terkait gender dan orientasi?

  6. KEREN…!
    ini musti dishare ke banyak orang. Cara pintar menjelaskan bahwa jenis kelamin dan gender itu berbeda.
    Penjabaran cerdas bahwa Laki-laki bergender feminim (biasa dibilang melambai) tentu bisa berorientasi heteroseksual seperti halnya perempuan bergender maskulin belum tentu berorientasi seksual as lesbian.
    pintar cara penjabarannyaya, mencerdaskan, saya izin share link.

  7. Uedaaaan artikelnyaah jd pengen
    Look at the mirror
    What i want.?
    What i need?
    What make me happy? Lol

  8. 4 jempol

  9. Hebat!! kajiannya oke banget
    Salam salut… 🙂

    • Fanny Rofalina

      Terima kasih mas Andiordi. Thanks juga feedback-nya. Aku simpan untuk future writing 😀
      *sorry for the late response

  10. This is just too good to be true!

    You wrote this very well, and this piece of writing is trustful since you put the sources. It’s comprehensive, and the way you write this is not like giving a six hour seminar, it makes people feel attached with the case instead.

    I’m a new fan! We need to talk about things more often. X Baby J

    • Fanny Rofalina

      Awee.. I do not stop say thank you to you. Hehehe.
      Thanks for your note. I believe from the start that people need this kind of information. And I’m very glad that I can deliver it in relevant way 😀
      Thanks Baby J :*

  11. Saya pribadi tadinya hanya mengenal variasi pada jenis kelamin dan gender, tetapi kesulitan memahami adanya variasi pada orientasi seksual. Setelah membaca tulisan ini, saya cukup kaget ketika menelusuri sumbernya bahwa ternyata informasi2 seputar hal ini sudah lama ada, tetapi kurang diangkat dalam bahasan populer. Tulisan yg mencerahkan! Masyarakat harus “update” pemahaman mereka mengenai ketiga hal di atas agar melihat variasi2 gender, jenis kelamin dan orientasi sebagai sesuatu yg lumrah. Izin share ya 🙂

    • Fanny Rofalina

      Iya, masyarakat harus “update” dengan realita yang sebenarnya udah di depan mata, tapi memilih untuk menutup mata.
      Silakan silakan. Senang bisa berbagi 😀

  12. artikelnya sangat membantu aku untuk persiapan presentasi d komunitasku
    thanks yah..
    🙂

  13. Love is gender-blind

    Artikel ini sangat edukatif. Saya share ya, agar teman-teman saya bisa ikut membacanya. Masih banyak orang di sekitar saya yang masih tertutup pikirannya. Mereka sangat membutuhkan artikel semacam ini untuk menyadarkan mereka akan how ignorant homophobia is.

    Saya sendiri adalah salah seorang korban homofobia. Di sekolah, saya selalu di-bully karena orientasi seksual saya. Sebenarnya saya panseksual, tapi mereka mengira saya lesbian. Tapi tetap saja, mau saya lesbian atau panseksual, respon mereka tidak akan berbeda jauh, berhubung keduanya sama-sama non-heteroseksual. “Pokoknya yang benar itu cuma heteroseksual,” begitu mereka pikir. Mereka selalu meledek seksualitas saya; mengatakan saya aneh, abnormal, gila, dsb. Padahal mereka bisa bilang begitu hanya karena mereka tidak mengerti apa yang saya rasakan! Saya sempat putus harapan karenanya. (Sorry ya, malah jadi curhat nih…)

    Tapi harapan saya kembali begitu saya menemukan artikel ini. Ternyata ada juga orang-orang yang open-minded seperti Anda. Teruslah berkarya dan menginspirasi banyak orang lewat tulisan-tulisan Anda.

    • Fanny Rofalina

      Hello.

      You got it right. Itu semua memang motivasi awal saya menulis topik ini. Saya banyak mendengar banyak cerita serupa.
      Ide itu seperti virus. Orang-orang butuh exposure. Walaupun cuma info sekilas, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Satu lilin bisa menyebar ke banyak lilin, yang lama-kelamaan bisa menerangkan kegelapan.
      Saya berpikir, saya punya pengetahuannya, kenapa tidak di-share dengan banyak orang jika itu membantu.

      Terima kasih sekali. Dengan adanya orang-orang seperti Anda yang terbantu dengan artikel saya ini, juga memberi saya harapan.
      Semoga saya bisa menghasilkan banyak karya lagi yang bisa membantu semakin banyak umat.

  14. wah, saya seneng bisa baca artikel ini, saya jadi ga bingung lagi dengan diri saya sendiri. sebelum baca artikel ini, saya bingung mengenai identitas saya, karena pikiran saya yang sering berubah-ubah dan berputar”. Artikel yang bagus, menarik, dan edukatif. Terimakasih, kak. 🙂 (y)

    • Fanny Rofalina

      Sama-sama, senang bisa membantu proses pencarian jati diri mu 🙂

  15. Halo mbak fanny, saya sangat berterimakasih sekali atas postingan anda yg sangat bermanfaat ini. apalagi sekarang saya sedang dalam posisi “mencari jati diri”
    dan dengan adanya tulisan mbak fanny ini sedikit banyak membantu saya mengenali diri saya lebih baik lagi:)
    kalo boleh, apakah ada email atau contact lain yg bisa saya hubungi? pengen sekalian nanya2 gitu hehe thanks a lot and keep posting^^

    • Fanny Rofalina

      Hello..
      Maaf baru balas sekarang.

      Sejak awal aku niat tulis ini, memang ditujukan untuk orang2 seperti kamu. Senang kalo memang bisa bermanfaat.
      Kalo mau menghubungi ku, lewat halaman ini aja, langsung nyampe ke email ku kok http://rofalina.com/kontak

      Hehe iya, semoga dalam waktu dekat bisa update tulisan lagi.
      Terima kasih .

  16. Wah, mbak. Tulisannya bermanfaat sekali. Saya jadi semakin paham soal jenis – jenis gender dan orientasi. Saya sendiri dan pacar saya bisa dibilang saling kebalikan. Saya wanita maskulin sementara dia pria feminin. Kadang kita berdua suka dikira pasangan homoseksual karena penampilan saya yang androgini 😀 .

    • Fanny Rofalina

      Hahaha. Tuh kan. Realita itu emang kaya dengan keindahan. 😉

  17. Luar Biasa , Menambah wawasan sekali, saya pribadi sangat tertarik dengan apa yang di jelaskan,. terimakasih banyak, mungkin kedepan nya bisa bawa topik yang berkaitan dengan comentnya mbk sonya, bahwa, mungkinkah Tuhan sudah Menggariskan seseorang lahir dengan kondisi yang “Homo/Lesbi/biseks” (sesuai dengan istilahnya) benarkah hal seperti itu bukan sebuah kelainan jika ia , lalu mengapa di tmpt saya ada yang seperti itu,tapi diberikan bimbingan secara rohani, orang nya bisa kembali menjadi biasa dalam hal ini biasa yg saya maksud itu , cowok yg menyukai cowok, berubah menjadi cowok menyukai cewek, atapun sebaliknya. rasanya tidak sabar membaca paparan dari mbk roffalina. sekali lagi terimakasih untuk sharingnya.GB

  18. nice post kak. walau gue termasuk di dalam orang-orang yang masih merasa aneh dengan yang selain heterosexual (walau udah banyak temen yg selain hetero juga), yg kayak gini selalu menarik buat ditelusuri lebih dalam sih.

  19. Thank God i’ve found your blog (site) ms Fanny. I really love the way you wrote it, awesome…. Dua kata kerennn banget !!! Tulisan yang sangat membuka wawasan dan pemahaman utuh soal isu gender. Bukan hanya terhadap orang lain bahkan terhadap diri sendiri 🙂 Informasi2 dipaparkan dengan gaya yang ringan padahal bobotnya wuah kalau cari di wikipedia bisa capek untuk dapat benang merah nya secara utuh. Keren…, salut dan terima kasih banyak ya atas tulisannya ms Fanny…

  20. Muhammad Rizky

    Just wow…well-said!

  21. Wajib dishare nih. Jangankan masyarakat umum, mahasiswa-guru-dosen dll aja nggak ngerti beginian 🙂

  22. Artikel yang sangat edukatif.
    Jadi tahu sekarang beda-bedanya dimana.

    Terima kasih kak. Pengetahuan baru

  23. Pertanyaan sederhana, bagaimana dengan orientasi seksual penyuka anak kecil atau orang tua?

  24. Artikel yang bagus mba, boleh minta referensinya?

  25. Bagus sekali! Jadi bisa mengenali diri sendiri. Terima kasih 🙂

Leave a Reply