Pengobatan Alternatif vs. Konvensional di Indonesia

posted in: Observasi Sosial | 1

Pengobatan Alternatif

Jika berhasil: dipuji-puji hebat, digembar-gemborkan
Jika gagal   : "Ya, namanya juga alternatif"
Masyarakat lebih permisif atau bahkan ada yang malu mengakui bahwa telah menjalani pengobatan alternatif

Pengobatan Konvensional (Dokter Profesional)

Jika berhasil: "Ya, itu kan emang tugas dokter"
Jika gagal   : "Wah, kasus malpraktik ini!"

Inilah realita masyarakat Indonesia. Terlalu banyak gap of knowledge dan, jangan lupa, kemalasan berpikir di luar sana. Ditambah dengan budaya masyarakat yang menggemari dongeng dan hal-hal berbau mistis, supranatural, dan magis.

Apakah di negara maju, seperti Amerika Serikat, tidak terjadi hal demikian?

Ya ada saja pengobatan alternatif beredar di tengah masyarakat Barat. Tapi karena pemikiran dan ilmu pengetahuan mereka harus diakui sudah lebih maju, mereka lebih menghargai jasa pengobatan konvensional oleh dokter atau praktisi kesehatan profesional. Kalo di Indonesia? Yaa gitu dehh..

ryu hasan tentang dunia kesehatan Indonesia

 

Tulisan ini tidak ditujukan untuk membenarkan/menyalahkan salah satu jenis pengobatan di atas. Tulisan ini ditujukan untuk memperlihatkan ketidakadilan dan selective bias di tengah masyarakat. Mindset ini pada akhirnya menghalangi akses masyarakat itu sendiri untuk mendapatkan perawatan yang layak/seharusnya.

Gambar oleh Jessica Siscawati

Quote by dr. Ryu Hasan

Pernahkah kamu mengalami dilema seperti di atas yang kamu rasakan benar jadi menghambat diri kamu atau kerabat terdekat mendapatkan pengobatan yang layak? Bagi ceritamu di bagian komen ya.. Dan jika kamu setuju dengan tulisan sentilan ini, spread the words 😉 

One Response

  1. Nah ini berarti tugas petugas kesehatan buat mengedukasi dan mereformasi paradigma masyarakat awam. Jangan salahkan masyaraktnya.

Leave a Reply