Kajian Gen dalam Menentukan Jenis Kelamin

posted in: Sains | 0

46 Kromosom Manusia XYSecara sederhana, diketahui jika orang berkromosom XX itu perempuan, sedangkan yang XY laki-laki. Padahal tidak selalu demikian. Orang berkromosom XY tidak selalu berjenis kelamin laki-laki, orang yang berkromosom XX juga tidak selalu berjenis kelamin perempuan. Memang jarang perempuan memiliki kromosom Y, meski tidak mustahil. Karena gen pembawa unsur maskulin kromosom Y bisa hilang/rusak pada orang tertentu.

Janin manusia sampai usia 8 minggu dalam kandungan semua berjenis kelamin perempuan. Kenapa ada yang berubah jadi laki-laki?

Perubahan kadar hormon-hormon tertentu lah yang merubah sebagian dari janin-janin perempuan itu jadi laki-laki. Terus apa yg membuat kadar hormon berubah?

Dan mutasi genetiklah yang memicu perubahan aktivitas hormon, berujung terjadinya diferensiasi menjadi laki-laki dari yang awalnya perempuan.

Tak banyak yang tahu bahwa munculnya jenis kelamin jantan/laki-laki adalah akibat hadirnya “si pengganggu”, yaitu kromosom Y yang merubah stabilitas hormonal. Kebanyakan orang tahu kromosom X&Y merupakan penentu jenis kelamin. Tapi ada beberapa hal seputar kromosom ini yang belum diketahui kebanyakan orang.

Dari segi kemasannya, kromosom XY ini sangat berbeda dengan kromosom-kromosom manusia yg lain. Dulu timbul tanda tanya besar, sekarang sudah terjawab. XY ini ternyata bukan kromosom identik. Dibanding ukuran X, kromosom Y sangat kecil seolah merupakan tambahan dadakan karena tuntutan keadaan (lihat gambar di atas). Kromosom Y tidak sebanding dengan kromosom X. X lebih perkasa dalam segala hal, akibatnya pertempuran X-Y adalah perkelahian tak seimbang. Dan akhirnya, kromosom Y selalu harus bersembunyi sambil meninggalkan bagian-bagian yang tidak penting untuk fungsinya bila berhadapan dengan X.

Artinya, secara genetik, manusia perempuan jauh lebih perkasa dari manusia laki-laki dalam segala hal.

Pembentukan Jenis Kelamin

Bagaimana prosesnya bisa seperti itu? Berikut yang tertulis dalam kitab genom manusia.

Di masa lampau, leluhur kita beralih dari kebiasaan reptil yang menentukan jenis kelamin berdasarkan temperatur telur ke penentuan secara genetik. Alasan yang paling mungkin untuk peralihan itu adalah supaya tiap jenis kelamin manusia dapat mulai berlatih untuk tugas khususnya masing-masing dalam pembuahan.

Pada manusia, adanya gen penentu jenis kelamin menjadikan laki-laki, sedangkan ketidakhadiran gen itu ya tetep perempuan. Pada burung, kebalikannya.

Kehadiran gen “pengganggu” itu segera menarik ke dekatnya gen-gen lain yang bermanfaat bagi laki-laki, misalnya, gen untuk otot kekar. Pada perempuan, gen-gen, seperti gen otot kekar, tidak diperlukan karena hanya akan menguras energi. Lebih baik jika dicadangkan untuk pengasuhan anaknya. Gen-gen sekunder semacam itu mendekatkan diri yang cocok dengan jenis kelamin yang satu dan tidak cocok dengan jenis kelamin yang lain. Persaingan antar gen.

Nah, “gangguan” yang ditimbulkan oleh gen dalam kromosom Y ini tidak selalu ektrem dan menghasilkan kelaki-lakian yang seragam. Hal ini karena tertariknya gen-gen sekunder kelaki-lakian tidak selalu sama. Akibatnya ada individu yang tidak ekstrem menjadi laki-laki. Hal ini juga bisa menjelaskan bahwa mengapa lebih banyak laki-laki yg kecewek-cewekan ketimbang sebaliknya. Ini bukan kelainan, tapi variasi normal.

Secara sederhana, laki-laki yang bersifat kecewek-cewekan bisa dibilang sebagai individu yang ingin “kembali” ke jenis kelamin asalnya, yaitu perempuan 😉

Wanita Inferior?

Kalau memang secara genetik wanita lebih perkasa, mengapa dalam kehidupan masyarakat yang terjadi justru sebaliknya? Laki-laki jadi lebih superior?

Wanita dianggap inferior bukanlah karena alasan fisik atau genetik, tetapi lebih disebabkan alasan kultural kesejarahan. Mengapa demikian?

Perempuan dianggap inferior karena dulu rata-rata berusia lebih pendek dari laki-laki. Kenapa? Karena proses melahirkan beresiko kematian tinggi. Sekarang, saat resiko proses melahirkan tak ubahnya seperti mencet jerawat, terbukti wanita didesain untuk berusia lebih panjang ketimbang laki-laki. Contohnya: siklus hormonal perempuan usia subur (menstruasi) baik untuk kesehatan cardiovascular sehingga mengurangi resiko jantung koroner. Setelah menopause, resiko jantung koroner pada perempuan jadi sama dengan laki-laki (dengan umur yang sama). Hal ini juga dapat menjelaskan kenapa wanita memiliki angka harapan hidup lebih tinggi daripada laki-laki.

Sumber:
saduran rangkuman kultwit dr. Ryu Hasan @ryuhasan (neurosurgeon) mengenai Jenis Kelamin (Sex), Gender, dan Orientasi Seksual.

http://www.sciencedaily.com/releases/2013/03/130307091557.htm

http://www.medicalnewstoday.com/articles/252826.php

Sumber gambar kromosom XY: http://www.treachercollins.co.uk/gene/chrom.gif

Kamu suka dengan artikel ini? Bantu share yuk 😉

Leave a Reply