Apakah Morning Sickness Melindungi Janin?

posted in: Sains | 3

Oke, sebelum saya bercerita, morning sickness adalah mual-mual yang dialami oleh ibu hamil (bumil) di pagi hari ya. Saya tidak dapat menemukan istilah sepadan yang enak di Bahasa Indonesia. Jadi, saya akan tetap menggunakan istilah morning sickness ini 🙂

***

Jika kamu sering mengalami morning sickness (mual dan muntah yang dialami oleh banyak perempuan selama trimester pertama kehamilan mereka) sulit untuk membayangkan penyebab kondisi ini terjadi kalau bukan karena kesalahan evolusi.

Morning sickness itu ternyata udah ada dari zaman nenek moyang kita dulu, zaman manusia purba. Selama minggu-minggu awal kehamilan, nenek moyang kita tentunya tidak berhenti bekerja juga, seperti sebagian wanita modern saat ini. Mereka masih harus melakukan perjalanan jauh (dulu masih nomaden) dan menghindari predator. Mereka harus mengurus anak-anak mereka dan mengumpulkan makanan bergizi.

Ya, baik bagi nenek moyang atau bagi wanita modern, morning sickness pada bumil tetaplah menghambat untuk beraktivitas. Di sisi lain, coba bayangkan, wanita yang tidak mengalami (atau setidaknya jarang) morning sickness akan mampu mengumpulkan lebih banyak makanan, punya waktu lebih untuk memperhatikan anak-anak mereka, dan lebih waspada terhadap bahaya di sekitar mereka.

Enak banget ya kalo jadi bumil yang jarang mengalami morning sickness?? Bisa efektif berkegiatan. Menguntungkan, bukan?

Sekarang, saya akan mengajak kamu berimajinasi sedikit mengenai konsep evolusi 🙂

Jika seorang wanita memiliki gen yang akan membuatnya sedikit mengalami morning sickness selama kehamilan, secara prinsip evolusi, gen itu akan diteruskan ke keturunannya. Kenapa? Karena kan tadi kita berasumsi betapa menguntungkannya kalo bumil yang jarang mengalami morning sickness. Ingat mekanisme evolusi: survival of the fittest! Kita akan mempertahankan fitur-fitur yang menguntungkan bagi kita, yang membuat kita mampu survive. Nah, jika terdapat gen yang membuat bumil berkecenderungan sedikit mengalami morning sickness, gen ini akan dipertahankan, dan diturunkan ke keturunannya. Karena asumsi kita tadi, gen ini adalah fitur yang menguntungkan. Seiring berjalannya waktu, ratusan tahun, ribuan tahun, “gen anti-morning sickness” ini akan menyebar ke sebagian besar populasi (ke anak, ke cucu, ke cicit, dan seterusnya). Morning sickness akan hilang..

Tapi kenyataannya apa? Masih banyak toh bumil yang mengalami morning sickness? Termasuk mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini. Morning sickness masih eksis di populasi kita!

Lah, kan kalo ga mual bukannya menguntungkan, tapi kok kita manusia masih punya aja kecenderungan untuk morning sickness yang mengganggu itu?

***

Morning Sickness Melindungi Janin


Hal ini membuat beberapa antropolog dan ahli biologi evolusioner juga bertanya-tanya. Jangan-jangan morning sickness memiliki beberapa manfaat tersembunyi. Manfaat yang lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya.

Adalah seorang Margie Profet yang mengusulkan ide ini: Mungkin morning sickness lolos seleksi alam karena menjauhkan bumil dari makanan yang dapat membahayakan janinnya.

Selama trimester pertama, janin sangat rentan terhadap efek teratogen (agen yang menyebabkan cacat lahir). Makanan yang dapat diterima baik bagi ibu dewasa mungkin mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi bayi yang sedang berkembang.

Jadi, mungkin morning sickness ini memaksa si ibu untuk mengkonsumsi makanan yang berisiko rendah demi kesehatan janin.

Ide Profet ini akan menjelaskan mengapa morning sickness biasanya berakhir setelah trimester pertama. Hal ini juga konsisten dengan jenis makanan yang banyak ditemukan paling memuakkan bagi bumil (daging dan sayuran dengan rasa yang kuat, seperti bunga pepaya, brokoli, pare, dll). Pada sejarah perjalanan evolusi manusia, jenis makanan begini yang memiliki potensi banyakn mengandung patogen, parasit, atau racun tanaman.

Di zaman modern, janin juga terancam oleh paparan asap rokok dan alkohol. Dan, seperti yang terjadi pada banyak bumil, bau rokok dan minuman keras saja sudah dapat memicu muntah.

Setidaknya ada dua poin lain yang mendukung hipotesis Profet ini:

***

Morning Sickness Melindungi Ibu Hamil

Tidak berhenti sampai di sini. Ada penjelasan evolusioner lain terkait morning sickness ini. Selain untuk melindungi janin, morning sickness juga dapat melindungi wanita hamil (yang telah menekan sistem kekebalan tubuh dan lebih rentan terhadap infeksi).

Nah, hipotesis ini harus membuat kita mempertimbangkan kembali kembali asumsi kita sebelumnya. Alih-alih menolak morning sickness sebagai efek samping yang tidak diinginkan dari perubahan hormon, kita mungkin bisa mulai memandang morning sickness sebagai salah satu strategi evolusi untuk melindungi janin dari bahaya.

Bukan berarti kamu jadi tidak harus mencoba untuk mengatasi morning sickness lho ya. Tapi tetep bumil yang mengkonsumsi obat untuk mengobati mual, harus mengawasi asupan makanan mereka. Mungkin kamu harus berhati-hati terhadap makanan berpotensi/berisiko memicu morning sickness-bahkan jika sudah mengkonsumsi obat yang memblokir mual.

***

Morning Sickness sebagai Polis Asuransi

Eits, tunggu dulu! Banyak yang akan salah paham mengenai tulisan ini, khususnya tentang hipotesis Profet tadi. Profet tidak mengatakan bahwa bumil yang sedikit mengalami morning sickness akan kemungkinan besar mengalami keguguran. Seperti idenya di atas, morning sickness dapat mencegah bumil mengkonsumsi makanan yang dapat menyebabkan cacat lahir, seperti daging yang tercemar.

Sederhananya, morning sickness ini seperti asuransi. 

Daya tahan tubuh masing-masing bumil kan berbeda. Mungkin ada bumil yang kuat, tanpa bantuan dari mekanisme morning sickness pun, tubuhnya sudah memiliki mekanisme sedemikian rupa untuk melindungi janin dari zat makanan yang tidak diinginkan. Di lain sisi, ada bumil lain yang mungkin terbantu dengan fitur morning sickness ini. Jadi, seperti asuransi, kalo ada dan dibutuhkan, pas sekali. Kalo tidak dibutuhkan, ya udah ga apa-apa, toh buat jaga-jaga 😉

***

Sumber tulisan: http://blogs.babycenter.com/mom_stories/does-morning-sickness-protect-the-fetus/
Sumber gambar: http://funcorner.eu/tag/baby/

***

Apakah menurutmu artikel ini berguna? Yuk, share ke teman-temanmu 🙂

3 Responses

  1. wah…kl aku gak kena morning sickness,,yg ada aku kena night sickness..hehehehe…karna mual2nya muncul justru malem hari setelah maghrib…dan paginya baek2 aja gak ada mual2..dan jadinya untung sih gak kena morning sickness,gak menggangu aktifitasku yg waktu itu lg ngajar^^

    temenku malah gak ada mual2 sama sekali,,katanya 'hamil kebo',,,hihihi…emang beda2 ya masing2 ibu..tergantung hormon dan tingkat daya tahan tubuhnya masing2….

    mau jadi ibu fan???hihihi…

  2. Hoo gitu ya.
    Mungkin ga sebatas morning sickness kali ya. Maksudnya lebih ke mual-mual kali ya. Yang pada dasarnya kadang ngeganggu aktivitas, untuk tidur sekali pun.

    Iya, berarti yang ga mual-mual itu, tubuhnya punya mekanisme sedemikian rupa yang membuat dia sudah 'mampu' melindungi janin tanpa bantuan mual-mual. Huwehehehe.

    Ahahaha. Someday lah. Cuma mau share saja, kan udah bilang mau ngebahas hormon ibu hamil. 😀

  3. Blogwalking bisa menambah keakraban [Warung Blogger]
    Maka dari itu saya blokwalking 🙂
    visitback : http://andre-freelife.blogspot.com/

Leave a Reply