Berbuat Baik itu Candu

Seseorang pernah bertanya, “Kenapa ya berbuat kebaikan itu kok kayaknya adiktif ?”

Coba ingat saat kamu berbuat kebaikan atau habis menolong orang, kamu pasti bisa merasakan betapa enaknya berbuat baik itu. Rasanya senang, damai, tentram.

Terlepas dari dogma yang diajarkan dari agama, banyak orang yang selalu berbuat baik bukan serta-merta menjalankan perintah agama. Perjalanan evolusi manusia telah melengkapi kita dengan mekanisme yang mendorong kita berbuat baik. Apa sesungguhnya dasar motivasi berbuat baik?

Bagaimana mekanisme otak terkait kecanduan kita berbuat baik? Apa yang terjadi di otak saat kita berbuat baik?

***

Dopamin di Otak

Salah satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah keberadaan hormon dopamin di otak. Dopamin adalah salah satu jenis hormon kesenangan (pleasure hormone). Produksi dopamin di otak akan menimbulkan efek kesenangan, kenyamanan, rasa enak, high. Produksi dopamin dipicu ketika kita makan enak, ketika kita jatuh cinta, mencoba hal baru, mencoba hal menantang, ketika kita berbuat kebaikan.

Dopamin juga ditemukan pada otak binatang lainnya, khususnya mamalia. Dopamin pada otak binatang memiliki peran untuk membtuk perilaku yang memaksimalkan outcome tertentu. Efek kesenangan yang ditimbulkan dopamin ketika kita melakukan sesuatu akan mendorong kita untuk terus melakukan hal tersebut. Sederhananya. kita ketagihan akan efek yang ditimbulkan oleh dopamin. Memahami hal ini sepertinya tidak sulit ya bagi kita untuk membiasakan berbuat baik.

Berbuat baik –> banjir dopamin di otak –> efek kesenangan –> candu dopamin –> candu berbuat baik

Kamu bisa baca lebih lanjut tentang peran dopamin di otak di sini.

***

Gen

Ketika berbicara gen, kita akan berbicara tentang evolusi. Evolusi memiliki mekanismenya sendiri, salahsatunya adalah seleksi alam. Prinsip dasar dari seleksi alam adalah “survival of the fittest“, siapa yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungannya, dia yang akan survive, bukan yang terkuat.

Nah, salah satu perilaku manusia yang lolos, survived, dan masih kita kembangkan hingga sekarang adalah perilaku altruis. Perilaku altruis adalah kesediaan untuk berbuat baik karena menyadari suatu hal baik dilakukan dan tidak berbuat buruk karena sadar suatu hal berdampak buruk.

Penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok spesies sosial, perilaku altruis dibutuhkan untuk dapat survive dan untuk menarik calon pasangan untuk tujuan reproduksi. Oleh karena itu, bagi manusia (Homo sapiens sapiens) yang telah survived melalui ribuan tahun seleksi alam dan seleksi sosial, perilaku altruis (berbuat baik sesama manusia) telah tertanam di gen kita, bahkan telah menjadi keunggulan khas manusia dibandingkan berbagai spesies lain. Cuma tiap orang bakat baiknya beda-beda aja, tergantung komposisi gen tadi.

Memakai skala yang lebih mikro, cowok atau cewek yang baiik dan ramah tentunya akan lebih menarik bukan dibandingkan cewek atau cowok yang jutek dan galak? 😉

***

Sirkuit Otak*

Selain hormon dan gen, sirkuit otak manusia juga mengambil peran. Pada otak manusia, terdapat 2 sirkuit yang kerjanya saling antagonis: Sirkuit Pahala** (Nucleus accumbens/NAcc) dan Sirkuit Altruis* (Obito Frontal Cortex)

Sirkuit NAcc dan OFC di Otak
Sirkuit NAcc dan OFC di Otak

Sirkuit Pahala

Tindakan seseorang didasari prinsip reward and punishment. Berbuat sesuatu karena ada maunya atau karena ada imbalannya, entah itu uang, hadiah, pujian, bahkan pahala. Tidak berbuat sesuatu karena ada larangannya atau takut kena hukuman atau takut dosa.

Sirkuit Altruis

Tindakan seseorang didasari oleh kebajikannya sendiri. Berbuat sesuatu karena sadar hal itu harus dilakukan atau memberikan kebaikan. Tidak berbuat buruk karena sadar suatu hal itu buruk, tidak baik dilakukan, atau merugikan orang lain. Karena empati.

Nah, sama dengan bakat gen tadi, perkembangan sirkuit tiap orang juga beda, bahkan tiap spesies beda. Pada proses pengambilan keputusan sebelum bertindak, kedua sirkuit ini bekerja secara antagonis.

Apakah seseorang berbuat baik hanya karena ada maunya? Apa karena ngejar pujian? Ngejar pahala doang? Atau dia berbuat baik ya karena dia sadar dia harus melakukan itu? Ga perlu diming-imingi reward, dia ikhlas melakukan hal itu. Ga ngarep pujian, ga ngarep hadiah, ga ngarep duit, ga ngarep surga!

Apakah seseorang menghindari suatu perbuatan karena cuma takut sama hukuman? Karena ada yang melarang? Karena lagi ada pak polisi? Takut dosa? Atau ia tidak berbuat buruk karena sadar betul hal itu merugikan? Karena rasa empatinya pada orang sekitar, pada lingkungan.

Konfrontasi kerja kedua sirkuit inilah yang membentuk motif tindakan atau aksi manusia tiap harinya. Motif untuk mengejar reward dan/atau berdasarkan empati memiliki rasionya sendiri dalam tiap tindakan manusia.

Bisa saja, kita berbuat A karena 80% ngarep pujian, 20% karena kesadaran empati kita. Atau bisa saja kita menghindari sebuah perbuatan, 20% aja karena takut hukuman, tapi 80% nya murni karena empati kita ke lingkungan, tidak mau merugikan orang lain.

***

Nah, bagaimana dengan kamu? Apa cerita kebaikanmu? Coba inget-inget perbuatan baik yang kamu lakukan terakhir kali. Kenapa kamu melakukannya? Berbuat baik kepada sesama karena ngarep reward atau karena empati? Share pengalamanmu di bagian komen ya 🙂

***

*Sumber: diskusi sains bersama dr. Ryu Hasan (neurosurgeon) dan Menrva Foundation Indonesia
**istilah yang dipakai dikutip langsung dari istilah yang digunakan oleh dr. Ryu 

Leave a Reply